Dikabarkan
Press TV dengan mengutip keterangan dari utusan Rusia pada perundingan damai Suriah Alexander Lavrentyev (Jumat, 5/5), sehari setelah perundingan putaran empat antara pemerintah Damaskus dan oposisi bersenjata di ibukota Kazakhstan, Astana.
Selama perundingan, Iran, Rusia dan Turki, sebagai mediator dan penjamin rezim gencatan senjata di Suriah, menengahi sebuah memorandum mengenai pembentukan empat zona de-eskalasi di wilayah di mana pertempuran paling hebat terjadi antara pasukan pemerintah Suriah dan militan yang berbeda.
Iran dan Rusia adalah sekutu pemerintah Suriah, sementara Turki mendukung faksi militan yang berbeda. Trio tersebut bertugas mengawasi pelaksanaan rezim gencatan senjata, yang disepakati Desember lalu dan membantu meluncurkan proses perdamaian Astana sebulan kemudian.
Memorandum tersebut diadopsi berdasarkan sebuah proposal Rusia untuk memilih empat titik panas di daerah-daerah yang dilanda kekerasan di Suriah, termasuk provinsi-provinsi Idlib dan Homs serta wilayah Ghouta timur dekat Damaskus.
Berdasarkan rencana tersebut, Damaskus dan kelompok militan, yang merupakan bagian dari gencatan senjata di Suriah, akan menghentikan semua bentrokan dan penggunaan berbagai jenis senjata di zona keamanan. Langkah tersebut dimaksudkan untuk memfasilitasi kemajuan proses diplomatik serta pengiriman bantuan ke warga sipil di daerah yang bermasalah.
Avrentyev mengatakan bahwa di bawah rencana Rusia dapat mengirim pengamat ke zona aman. Dia mengatakan pemantau pihak ketiga dapat diundang asalkan Iran dan Turki menyetujuinya.
[mel]
BERITA TERKAIT: