
Presiden Amerika Serikat Donald Trump diketahui mengeluarkan larangan barang elektronik yang lebih besardari ponsel, seperti tablet dan laptop ke dalam penerbangan dari sejumlah negara di Timur Tengah pada bulan lalu. Aturan semacam itu juga diadopsi oleh Inggris.
Aturan itu dibuat dengan dalih untuk menjaga keamanan dari para militan yang menyembunyikan bom di dalam laptop.
Aturan itu mempengaruhi 10 bandara di Timur Tengah, Afrika Utara dan Turki.
Namun CEO Qatar Airways, salah satu maskapai yang harus mengikuti aturan tersebut menilai bahwa aturan tidaklah efektif untuk menghalangi militan dari melakukan serangan.
"Alih-alih pergi dari bandara di mana ada larangan, mereka akan pergi ke bandara di mana tidak ada larangan," kata Akbar Al Baker dalam sebuah wawancara seperti dikuti Channel News Asia (Jumat, 7/4).
"Dan tidak ada larangan di bandara tertentu yang sangat berisiko, tetapi jauh lebih mudah untuk mendapatkan akses ke pesawat terbang dari tempat-tempat daripada dengan kami," sambungnya.
[mel]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: