Hal itu terungkap dalam penelitian terbaru yang dirilis pekan ini. Dalam penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Institut Analisis Hubungan Ras tercatat bahwa ada 134 insiden rasis yang dilaporkan di Inggris pasca referendum Brexit 23 Juni lalu.
Sekitar 51 dari 134 insiden tersebut menggunakan pesan-pesan referendum atau pesan yang digunakan selama kampanye Brexit.
Sejumlah korban yang melapor, baik warga dari negara-negara Uni Eropa atau pun warga Inggris yang menentang Brexit mengatakan bahwa mereka mendapat hinaan kasar ataupun menemukan kata-kata kasar tertulis di sejumlah lokasi.
"Pulang ke rumahmu! Kami memilih agar kalian keluar. Kalian akan hengkang dari negara ini segera," begitu salah satu kalimat yang dilontarkan warga Inggris kepada warga Eropa lainnya yang tinggal di Inggris,
Di antara para Korban tersebut, yang paling besar adalah Muslim. ada setidaknya 30 insiden kejahatan atas kebencian yang menimpa Muslim di Inggris pasca Brexit.
Dalam penelitian tersebut, Institut Hubungan Ras menyalahkan kebijakan pemerintah Inggris pada imigrasi yang menyulut kejahatan kebencian setelah pemilihan Brexit.
"Tesis kami adalah bahwa lonjakan kebencian ras telah memiliki dorongan langsung dari pendekatan memecah belah ras, agama dan migrasi yang sekarang menjadi kebijakan resmi," kata laporan tersebut seperti dimuat Press TV.
[mel]
BERITA TERKAIT: