Obama pun menyatakan dukungan moral terhadap tokoh reformasi Myanmar, Aung San Suu Kyi.
Suu Kyi menyatakan niat bertarung meraih kursi kepresidenan dalam pemilihan umum pada 2015, pada Kamis lalu. Saat berbicara di hadapan pemimpin dan pengusaha dunia pada Forum Ekonomi Dunia di Asia Timur di Naypyidaw, peraih Nobel Perdamaian itu mendesak amandemen konstitusi yang tidak memungkinkannya memimpin negara tersebut.
Konstitusi bikinan pemerintahan militer mengatur bahwa pencalonan sebagai presiden dilarang bagi orang yang memiliki pasangan atau anak-anak berkewarganegaraan asing.
"Proses amandemen harus mencerminkan inklusi bukan pengecualian. Saya tidak mengerti mengapa ada ketentuan yang melarang seseorang untuk mencalonkan diri sebagai presiden karena status (kebangsaan) anak-anaknya," kata Obama dalam konferensi persnya bersama Suu Kyi pada Jumat (14/11), seperti dikabarkan
AFP.
Perlu diketahui, almarhum suami Suu Kyi, Michael Aris dan kedua putranya Alexander serta Kim, memiliki kewarganegaraan Inggris.
"Meskipun pemerintahan berada dalam kekuasaan militer bukan berarti tidak dapat diubah. Pemilu harus bersifat bebas, adil dan inklusif," tandasnya.
[ald]
BERITA TERKAIT: