Konflik yang terus memanas juga memicu pengungsian besar-besaran. Pemerintah Lebanon mencatat sekitar 759.300 orang telah terdaftar sebagai pengungsi di berbagai wilayah akibat serangan yang berlangsung selama beberapa hari terakhir.
Dikutip dari Xinhua, Rabu 11 Maret 2026, dari jumlah tersebut, sekitar 122.600 orang kini tinggal di 580 tempat penampungan yang disediakan pemerintah untuk menampung warga yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Di tengah situasi itu, Israel dilaporkan kembali melancarkan tiga serangan udara di pinggiran selatan Beirut pada Selasa sore, 10 Maret 2026. Serangan juga terus berlangsung di sejumlah wilayah di Lebanon selatan, menurut laporan Kantor Berita Nasional Lebanon.
Eskalasi konflik bermula setelah kelompok Hezbollah menembakkan roket dari Lebanon ke arah Israel pada 2 Maret, yang disebut sebagai serangan pertama sejak gencatan senjata diberlakukan pada 27 November 2024.
Militer Israel menyatakan mereka telah meluncurkan apa yang disebut sebagai “kampanye militer ofensif” terhadap Hizbullah. Operasi itu mencakup serangan udara besar-besaran di berbagai wilayah Lebanon serta serangan darat di dekat perbatasan.
Israel juga memperingatkan warga sipil untuk meninggalkan wilayah selatan Sungai Litani dan pinggiran selatan Beirut, karena area tersebut menjadi target operasi militer yang sedang berlangsung.
BERITA TERKAIT: