Menteri Urusan Perbatasan dan Keamanan Provinsi Mandalay, Kolonel Aung Kyaw Moe mengatakan bahwa setidaknya dua orang tewas dan 14 lainnya mengalami luka-luka pasca munculnya kerusuhan pada hari Selasa (1/7).
Kerusuhan terjadi saat sekelompok massa etnis Budha menyerang kedai teh milik warga Muslim yang dituduh memerkosa seorang wanita Budha. Sejak itu kerusuhan pun terus meluas. Media pemerintah
New Light of Myanmar melaporkan bahwa 8 kerusuhan secara terpisah terjadi di Provinsi Mandalay dalam 2 hari terakhir. Aksi ini melibatkan sebanyak 450 orang yang dilengkapi dengan berbagai jenis senjata tajam hingga bahan peledak.
Sebagaimana dikutip
CNN (Minggu, 6/7), dua orang tewas akibat kerusuhan tersebut. Satu warga Muslim bernama Soen Min Htway yang tewas dibunuh saat berjalan menuju masjid. sementara seorang lainnya seorang Buddha bernama Tun Tun yang tewas digorok lehernya dengan pedang
Selama beberapa tahun terakhir, Myanmar telah menjelma jadi negara yang memiliki tingkat konflik sektarian tinggi, dengan kaum Muslim menjadi korban utamanya. Beberapa kelompok ektremis Budha seperti 969 Movement dituduh menjadi dalang utama kerusuhan dan mendorong diterapkannya UU Diskriminasi seperti larangan menikah antar-keyakinan.
Kerusuhan di Mandalay sendiri dipicu oleh aksi pemimpin gerakan 969 Movement, Ashin Wirathu, yang memposting tulisan provokatif tentang warga muslim pemilik kedai teh yang dituduh telah melakukan perkosaan. Ketua kelompok pembela HAM Fortify Rights, Matthew Smith, mengatakan bahwa para ekstremis menggunakan media sosial untuk menyebarkan kebencian terhadap warga muslim dan dalam berbagai kasus memicu kerusuhan.
[ian]
BERITA TERKAIT: