Hal tersebut dilakukan menyusul petisi online yang dilayangkan kepada perusahaan asal Amerika Serikat itu.
Bahan kontroversial tersebut adalah minyak sayur brominasi atau brominated vegetable oil (BVO) yang ditemukan dalam merk Coca-Cola dan produk minuman lainnya seperti Fanta dan Powerade.
Juru bicara Coca-Cola, Josh Gold menekankan bahwa pembuangan bahan BVO bukan dilakukan karena alasan keamanan.
"Seluruh minuman kami, termasuk yang mengandung BVO aman dan akan selalu aman, serta tunduk pada peraturan dari pemerintah di mana minuman tersebut dijual," katanya dalam sebuah pernyataan seperti dilansir
BBC (Selasa, 6/5).
"Keamanan dan kualitas dari produk-produk kami adalah prioritas tertinggi," lanjutnya.
BVO sendiri digunakan dalam minuman rasa buah karena membantu mencegah bahan-bahan lainnya terpisah, sehingga rasa yang dihasilkan pun utuh.
Coca-Cola berniat mengganti BVO dengan sukrosa asetat isobutyrate atau gliserol ester dari rosin yang biasa ditemukan dalam permen karet.
Penggunaan BVO memicu protes karena mengandung unsur bromida yang digunakan dalam flame retardants atau senyawa yang digunakan dalam produksi seperti plastik dan tekstil yang dapat menghambat penyebaran api. Unsur tersebut juga dikhawatirkan dapat menjadi bahan aditif.
Kampenye terhadap penggunaan BVO dicetuskan oleh seorang remaja asa Mississippi Sarah Kavanagh yang mengkritisi dampak kesehatan dari bahan tersebut dalam minuman yang kerap dikonsumsi oleh atlet.
Ia membuat petisi online yang ditandatangai oleh ribuan orang di situs petisi Change.org untuk menyerukan penghapusan BVO.
Sementara itu, menurut peneliti medis di Mayo Clinic, konsumsi minuman ringan mengandung BVO yang berlebihan minuman ringan dapat dikaitan dengan efek negatif negatif seperti kehilangan memori, masalah kulit, serta saraf.
BVO sendiri diakui sebagai bahan yang aman konsumsi sejak tahun 1970 oleh US Food and Drug Administration.
[mel]
BERITA TERKAIT: