"Ini adalah kabar baik kami beritahu orang-orang kami (bahwa) era perpecahan telah selesai," kata Perdana Menteri Hamas Ismail Haniyeh di Gaza (Rabu, 23/4) seperti dikuktip
Reuters.
Pakta tersebut sekaligus memproyeksikan visi pemerintah persatuan selama lima minggu ke depan untuk pemilihan umum yang akan digelar enam bulan mendatang.
Keretakan politik anatar Fatah dan Hamas terutama terjadi setelah Hamas memenangkan pemilu Palestina tahun 2006 dan menguasai jalur Gaza.
Upaya pemersatuan Hamas dan Fatah penah dilakukan seperti pada tahun 2011 yang dimediasi oleh Mesir. Namun upaya tersebut gagal.
Penyebab utama keretakan kedua belah pihak terkait dengan perbedaan sikap dalam menghadapi Israel. Hamas lantang menyuarakan penentangan atas Israel. Sedangkan Fatah lebih memilih untuk tetap memegang otoritas di Tepi Barat palestina demi melakukan upaya pembicaraan dengan Israel.
Pakta yang dibuat Hamas dan Fatah tersebut mendapat respon negatif dari Israel.
Mengetahui adanya kesepakatan damai, Israel degera membatalkan sesi pembicaraan damai dengan Palestina yang diinisiasi oleh Amerika Serikat yang dijadwalkan digelar pada Rabu malam (23/4).
Perdana Meteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut bahwa keputusan Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Fatah yang memilih berdamai dengan Hamas sama dengan menyisihkan potensi perdamaian di Palestina.
Ia menyebut bahwa ia akan mengadakan sidang darurat kabinet keamanan hari ini (Kamis, 24/4) untuk menentukan sikap atas pakta tersebut.
Namun Abbas menyebut bahwa pakta tersebut tidak akan mengganggu upaya perdamaian di Palestina. Â
"Tidak ada kontradiksi sama sekali antara persatuan dan pembicaraan dan kami berkomitmen untuk membangun perdamaian yang adil berdasarkan solusi dua-negara," katanya dalam sebuah pernyataan.
[mel]
BERITA TERKAIT: