Di antara puluhan pemimpin dunia itu, hadir dua petingggi negara yang berseteru sejak masa perang dingin, Kuba dan Amerika Serikat. Tetap perseteruan ideologis itu dikebelakangkan sesaat demi menghormati Mandela. Ketika hendak maju ke podim untuk memberikan pidato, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, sempat berjabat tangan dengan Presiden Kuba, Raul Castro.
Tentu saja tidak sedikit yang memuji momen langka itu. Namun, Gedung Putih menegaskan bahwa momen tersebut adalah bentuk penghormatan biasa antar kepala negara, bukan sinyal akan perubahan kebijakan Amerika Serikat terhadap Kuba.
"Ia (Obama) benar-benar tidak melakukan lebih dari pada bertegur sapa dengan para pemimpin ketika hendak memberikan pidato, itu bukan diskusi subtantif," kata wakil Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat, Ben Rhodes, seperti dikutip Reuters.
Amerika Serikat dan Kuba memiliki sejarah ketegangan hubungan bilateral, terutama sejak revolusi tahun 1959 yang dimotori oleh Fidel Castro.Fidel Castro menggulingkan rezim Fulgencio Batista yang disokong Amerika Serikat. Kemudian pada tahun 1961, Amerika Serikat mendaratkan pasukannya ke Kuba, memanfaatkan ribuan pelarian Kuba yang sudah dipersenjatai dan dilatih perang, untuk menggulingkan Fidel Castro yang lebih memilih merapat ke Uni Soviet. Namun upaya tersebut dipatahkan Fidel dan pendukungnya. Peristiwa tersebut dikenal juga dengan nama Invasi Teluk Babi.
Jabat tangan yang dilakukan oleh Raul dan Obama tersebut merupakan momen langka kedua yang terjadi pasca Invasi Teluk Babi. Sebelumnya, pada tahun 2000, Presiden Kuba Fidel Castro yang juga merupakan kakak kandung Raul Castro, berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton pada pertemuan di PBB.
Amerika Serikat saat ini, kata Ben Rhodes, telah melonggarkan kebijakan larangan perjalanan dan pengiriman uang ke Kuba. Ia juga mengatakan bahwa Amerika Serikat tengah mencari kemungkinan untuk melakukan kontak lebih lanjut dengan Kuba.
[ald]
BERITA TERKAIT: