Setelah Dibuka Kembali, Kaesong Memiliki Masalah Baru

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Sabtu, 16 November 2013, 13:59 WIB
Setelah Dibuka Kembali, Kaesong Memiliki Masalah Baru
kaesong industrial complex/net
rmol news logo Setelah dua bulan dibuka kembali, kompleks industri bersama Korea Selatan dengan Korea Utara di Kaesong (Kaesong Industrial Complex) saat ini tengah menghadapi masalah serius, yakni kekurangan pesanan dan ketidakpastian peraturan.

Kompleks industri yang terletak di wilayah Korea Utara tersebut sempat ditutup sejak April lalu akibat ketegangan yang kembali meningkat di semenanjung Korea, sebelum akhirnya dibuka kembali pada September. Namun, perusahaan yang beroperasi di kompleks industri tersebut mengatakan bahwa pihaknya hanya mengoperasikan 50-60 persen dari kapasitas produksinya.

"Hilangnya pesanan dari pembeli secara efektif menghalangi (perusahaan) beroperasi normal," kata seorang pengusaha seperti dikabarkan Yonhap pada Sabtu (16/11).

Di samping permasalahan kekurangan pesanan, 123 perusahaan Korea Selatan yang beroperasi di kompleks tersebut juga menghadapi ketidakpastian masa depan perusahaan. Pasalnya, kedua Korea belum juga membahas reformasi terkait peraturan operasi di kawasan industri tersebut. Reformasi peraturan yang dimaksud diantaranya adalah mengurangi pembatasan perjalanan ke Kaesong dan kemudahan komunikasi serta akses internet. Karena ketidakpastian itu, tiga dari 123 perusahaan di Kaesong telah mengindikasikan untuk menutup atau menjual perusahaanya.

Peneliti Senior di  Institute for Peace and Unification Studies di Seoul National University, Chang Yong-seok, menilai bahwa pembahasan mengenai kemudahan akses jalan dan komunikasi adalah hal yang sulit dibawa ke meja diskusi antara Korea Selatan dan Korea Utara.

"Ini melibatkan penyesuaian perjanjian gencatan senjata dan berkaitan dengan perundingan enam pihak (six party talks) yang terhenti," jelasnya.

Proyek industri Kaesong adalah bagian dari usaha membangun hubungan bilateral Korea Utara dan Selatan dengan membentuk proyek kerjasama sejak tahun 2004. Di dalam kompleks industri itu, kedua Korea menggabungkan modal dan teknologi Korea Selatan dengan pekerja Korea Utara. Kompleks industri tersebut memproduksi antara lain garmen, produk elektronik, produk plastik, mineral, dan logam. [ald]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA