Sedikitnya 300 tentara AS bersiaga menjaga lereng bukit yang menghadap salah satu kota terbesar di Turki memantau perkembangan udara demi mencegah ancaman rudal dari Suriah.
Mereka bersiaga dengan menggunakan baju besi tertutup dan helm sepanjang hari. Mereka mengoperasikan serangkaian peluncur rudal dan stasiun radar untuk memburu dan menembak langsung setiap rudal yang berusaha menyerang.
"Kami melindungi dari segala bentuk rudal balistik atau roket yang mungkin datang dari Suriah," kata Letnan Kolonel John Dawber, Komandan pasukan batalyon ruda yang berasal dari Oklahoma seperti yang dilansir
CNN (Sabtu, 14/9).
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kehadiran pasukan ini bertujuan untuk melindungi aset Amerika Serikat. "Kehadiran kami disini adalah untuk mencegah serangan dan jika serangan datang, kami bisa melindungi aset kami," katanya
Aset yang dimaksudkan Dawber adalah Gaziantep, sebuah kota industri yang tengah tumbuh secara pesat dan dihuni 1.4 juta jiwa. Kota metropolis ini terletak sekitar 30 kilometer dari perbatasan Suriah dan menurut klaim AS, merupakan kota yang menjadi target sasaran Suriah.
Akhir tahun lalu, AS, Jerman, dan Belanda menyetujui permintaan Turki untuk mengirim tiga batalion pasukan rudal guna melindungi kota Gaziantep, Adana dan Kahramanmaras. Keputusan tersebut diambil setelah serangkaian insiden lintas batas Suriah-Turki terjadi dan menimbulkan korban jiwa.
Penjagaan di perbatasan Turki-Suriah semakin diperketat pasca ketegangan terjadi di Suriah. AS yang menduga Suriah menggunakan senjata kimia pada penyerangan 21 Agustus lalu memiliki rencana untuk menggelar aksi militer terhadap Suriah. Sehingga para tentara AS di perbatasan Turki itu pun meningkatkan kesiagaannya.
Para tentara AS yang ditempatkan di Gaziantep bahkan mengatakan bahwa rudal-rudal yang disiagakan telah dilengkapi dengan hulu ledak kimia yang dirancang untuk perang.
"Karaketeristik cabang militer kami, artileri pertahanan udara, memungkinkan selalu adanya ancaman kimia," kata Kapten Tarik Jones.
[ian]
BERITA TERKAIT: