
Pemerintah Turki menyebut serangan bom bunuh diri yang terjadi di Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Ibukota Ankara, pada Jumat (1/2), tidak ada hubungannya dengan Suriah.
Perdana Menteri Recep Tayib Erdogan justru menyebut bahwa serangan itu dilakukan oleh kelompok terorisme domestik.
''Saya tidak melihat kesimpulan ke arah itu (Suriah). Kami tahu kelompok kiri selalu menyerang negara kami,'' ujar Erdogan, seperti dilansir,
Hurriyet Daily News (Sabtu, 2/1).
Sebelumnya pada Jumat (1/2) sebuah serangan bom bunuh diri mengguncang Kedubes AS dan menewaskan dua orang, termasuk diantaranya seorang petugas keamanan kedubes. Dinas intelejen Turki mengidentifikasi bahwa pelaku penyerangan tersebut bernama Sanli Ecevit. Pria berusia 30 tahun itu kedapatan membawa enam kilogram bahan peledak yang tersusun rapi di dalam rompi yang ia kenakan.
Sejurus kemudian, kelompok Front Pembebasan Rakyat Revolusioner (DHKP-C) mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Melalui sebuah pernyataan di jejaring internet DHKP-C juga mengaku melakukan hal itu sebagai bentuk perlawanan terhadap Amerika Serikat. Kelompok ini menghendaki pemerintahan Erdogan berhenti melakukan kerja sama dengan AS.
Lebih lanjut DHKP-C mengancam akan membunuh Erdogan jika ia melanjutkan kerja sama dengan AS
.[ian]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: