Dalam rangkaian kunjungan ini, ia juga akan mengisi kajian kitab kuning Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Asyfiya’.
Gus Salam sowan ke KH Muhammad Wildan Salman atau Guru Wildan di Martapura, Banjar, Kalimantan Selatan. Guru Wildan merupakan keturunan Syeikh M. Arsyad Al-Banjari (Datuk Kelampayan), saat ini menjabat sebagai Rais Syuriyah PWNU Kalimantan Selatan.
“Kalau masuk ke suatu wilayah untuk menggalang kepercayaan ketua-ketua PCNU, saya akan sowan dulu ke Rais Syuriyah dan Kiai sepuh setempat. Dan saya sudah sowan silaturrohim Guru Wildan,” kata Gus Salam.
Gus Salam menyampaikan kekagumannya kepada Guru Wildan yang merupakan murid langsung Syeikh Yasin al-Fadani, ulama besar yang dikenal dengan julukan Musnid ad-Dunya karena keluasan sanad keilmuannya.
Ia juga menyoroti peran Guru Wildan sebagai pengasuh Pesantren Darussalam, yang dikenal sebagai pesantren tertua dan terbesar di Kalimantan Selatan dengan jumlah santri mencapai sekitar 12.000 orang.
Gus Salam mengaku mendapat pesan penting dari Guru Wildan agar menjaga dan menjalankan jam’iyyah Nahdlatul Ulama dengan landasan keilmuan berbasis pesantren serta etika-akhlaqul karimah yang kuat.
“Guru Wildan juga berpesan agar NU dikelola dengan rasa cinta, saling mengasihi dan menguatkan ukhuwwah nahdliyyah,” ujar Gus Salam.
Gus Salam menambahkan, dirinya telah berpamitan kepada Guru Wildan sekaligus memohon izin untuk menjalin komunikasi dengan jajaran PCNU se-Kalimantan Selatan. Ia juga bersyukur karena dalam pertemuan tersebut mendapat doa restu agar dimudahkan dalam meraih cita-citanya.
Di tempat lain, Ketua PP IKAPMAM, H. Aziz Ja’far, menjelaskan kehadiran Gus Salam bersama masyayikh PP Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang di tanah Banjar juga untuk mengisi kajian kitab Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Asyfiya’, yang mengulas pola hidup Islami dengan sentuhan tasawuf dan akhlak.
Pengajian digelar di Pesantren Raoudlotul Muta’allimin An-Nahdliyyah (RMA) Guntungmanggis, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, yang diasuh KH Muhari (Guru Muha), dan diikuti ratusan alumni, masyarakat, santri, serta pengurus NU setempat.
“Dalam pengajian rutin kitab ini, Kiai Abdussalam selalu menyelipkan pesan disertai kisah agar santri tetap terikat dengan masyayikh pesantren. Dan, agar warga serta pengurus NU senantiasa terikat dengan muassis dan masyayikh sepuh NU,” kata Aziz Ja’far.
Ia menambahkan, substansi kitab tersebut bermuara pada thariqah yang dilandasi tasawuf, sebagai panduan ruhani dalam menjalankan ibadah dan aktivitas sehari-hari.
Sementara itu, Gus Salam menegaskan pentingnya pembentukan karakter dalam kehidupan bermasyarakat, berorganisasi, dan berbangsa. Menurutnya, kitab tersebut menghadirkan panduan dan kisah praksis dari para sahabat, ulama, dan wali dalam membentuk karakter.
“Saya adalah santri, niat sendiko dawuh mengikuti arahan, perintah dan nasehat guru-kyai serta masyayikh NU dan pesantren. Ketika saya diperintah untuk ikhtiar menjadi Ketua Umum PBNU melalui Muktamar ke-35, nanti, saya sam’an wa tho’atan,” pungkasnya.
BERITA TERKAIT: