Rusia Masih Tidak Bisa Menerima Syarat AS Soal Suriah

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Minggu, 03 Februari 2013, 14:47 WIB
rmol news logo Rusia dan Amerika Serikat berbeda pendapat dalam menanggapi isu yang terjadi di Suriah. Perbedaan pendapat itu terjadi dalam Konferensi Keamanan Munich di Jerman.
 
Meski dalam pertemua tersebut Wakil Presiden AS Joe Biden menekankan arti pentingnya Rusia dan AS untuk bekerja sama demi perdamaian dan keamanan internasional, termasuk solusi untuk perdamaian di Suriah.
 
Namun demikian, AS dan Rusia punya banyak perbedaan pendapat dalam mengatasi krisis Suriah. Ini dipicu saat Biden menyebut bahwa Presiden Bashar al Assad sudah tidak patut lagi memimpin Suriah dan harus mundur.

Seketika itu pula Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan syarat AS tersebut tidak bisa diterima Rusia.
 
Ia mengatakan proses perdamaian Jenewa bagi Suriah yang telah disepakati harus dilakukan, termasuk perundingan antara semua pihak. Ia juga menampik anjuran dari anggota yang hadir dalam konferensi itu mengenai pembukaan jalur bantuan kemanusiaan di Suriah, yang diamankan oleh pesawat-pesawat tempur internasional.

“Mengenai dibukanya jalur bantuan kemanusiaan dengan dukungan serangan udara, saya tidak setuju. Semua penggunaan kekerasan, ancaman penggunaan kekerasan tidak bisa diterima karena situasi disana tidak membutuhkan lebih banyak serangan militer, tetapi gencatan senjata segera dan pengakhiran kekerasan sesegera mungkin,” paparnya, sebagaimana dikutip Voanews (Minggu, 3/2).
 
Lavrov dengan tegas menyatakan bahwa Rusia khawatir keputusan PBB untuk melakukan operasi militer di Suriah, sekalipun itu untuk tujuan kemanusiaan. Karena keputusan itu berpotensi mengakibatkan keterlibatan internasional yang lebih besar, seperti yang terjadi dengan resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai Libya.

Sekutu Suriah itu telah memveto tiga resolusi PBB untuk meningkatkan tekanan terhadap Presiden Suriah Bashar al Assad.
 
Perang saudara antara pemberontak Suriah dengan pemerintahan Presiden Assad telah melumpuhkan Suriah sejak terjadinya demonstrasi damai anti-pemerintahan bulan Maret 2011. Berdasarkan data PBB, sedikitnya 60.000 orang tewas sejak konflik itu pecah. [ian]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA