Amerika Serikat melalui jurubicara Dewan Keamanan Nasional AS Tommy Vietor menyebut keputusan itu sebagai hal yang kontraproduktif dan akan mempersulit pembukaan kembali perundingan perdamaian kedua belah pihak.
"Kami yakin tindakan ini kontraproduktif dan semakin mempersulit pembukaan kembali negosiasi langsung atau mencapai solusi dua negara," ujar Vietor sebagaimana dikutip
AFP (Sabtu, 1/12).
Israel mengungkapkan rencana-rencana pembangunan rumah baru itu hanya berselang sesaat setelah Palestina memperoleh pengakuan sebagai negara pemantau non-anggota di PBB. Beberapa laporan menyebutkan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memutuskan rencana pembangun 3.000 rumah ini sebagai tanggapan atas keberhasilan Palestina di PBB.
Beberapa dari rumah baru itu akan dibangun di E1, sebuah daerah sangat kontroversial di Tepi Barat, yang menghubungkan wilayah caplokan Yerusalem Timur dengan permukiman Maaleh Adumim.
Pihak Palestina menentang keras proyek ini karena akan membelah Tepi Barat menjadi dua bagian, yang akan memperumit pembentukan negara Palestina.
[ian]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: