Warga Benghazi menganggap kelompok ekstrimis ini sebagai dalang dibalik aksi damai yang berubah menjadi kerusuhan pada pekan lalu di konsulat AS dan menewaskan Christopher Stevens, Dubes AS untuk Libya.
"Kami menuntut keadilan bagi Stevens, karena Libya merasa kehilangan seorang teman," tulis para demonstran di dalam spanduk mereka, seperti dikutip
Reuters (Sabtu, 22/9).
Dalam aksinya, mereka juga menuntut agar pemerintah Libya melarang keberadaan milisi Ansar al-Sharia, sekaligus melucuti senjata yang mereka dapatkan semenjak aksi penggulingan Kolonel Muammar Gaddafi setahun silam.
Ratusan demonstran ini kemudian menyerbu markas Ansar al Sharia di Benghazi. Mereka merusak bendera dan membakar sejumlah kendaraan yang berada di dalam markas kelompok tersebut. Beberapa orang juga terlihat naik ke atap gedung sebagai upaya menduduki gedung tersebut.
Sejumlah saksi mata juga mengatakan bahwa anggota milisi membalas serangan itu dengan melepaskan tembakan ke arah kerumunan massa. Tetapi hingga saat ini belum ada laporan pasti apakah ada korban tewas atau terluka dalam insiden itu.
[ian]
BERITA TERKAIT: