"Mengatakan fakta bahwa pembantaian Saddam Hussein terhadap ratusan ribu warganya tidak relevan dengan tindakan moral untuk melengserkan pemimpin Irak itu adalah sesuatu yang aneh," Sindir Blair kepada peraih nobel perdamaian 1984 itu, sebagaiamana dikutip
BBC (Minggu, 2/9).
Blair mengaku peristiwa pembantaian di Halabja, dimana ribuan orang dibunuh dalam satu hari dengan menggunakan senjata kimia masih terus terngiang dikepalanya hingga saat ini.
"Selain itu pembantaian yang dilakukan Saddam terhadap lawan-lawan politik, warga Marsh serta penyiksaan secara sistematis yang ia lakukan terhadap rakyatnya adalah alasan moral yang cukup (untuk mengambil tindakan)," tegas Blair.
"Singkatnya ini adalah argumen yang sama yang telah kita ungkapkan berkali-kali dimana tidak terdapat hal baru untuk dikatakan. Namun tentunya dalam demokrasi yang sehat orang-orang bebas untuk bersikap tidak setuju," Blair menambahkan.
Seperti diberitakan sebelumnya, seorang Uskup Agung Desmon Tutu mendesak agar Blair dan mantan pemimpin Amerika Serikat (AS) George W. Bush untuk segera didakwa di Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda. Menurut Tutu jumlah korban tewas akibat perang Irak yang dimulai sejak 2003 lalu adalah dasar untuk membawa kedua pemimpin dunia itu bertanggung jawab atas perbuatan mereka.
[ian]
BERITA TERKAIT: