
Bentrokan kekerasan yang menelan korban jiwa para penganut Muslim Rohingya dan penganut ajaran Budha di negara bagian Rakhine, Myanmar, tidak ada hubungannya dengan ras atau agama.
Demikian disampaikan oleh Presiden Myanmar Thein Sein saat menjamu Menteri Luar Negeri Turki, Ahmet Davutoglu, pada Kamis (9/8) waktu setempat. Ahmet Davutoglu berkunjung ke Myanmar dalam rangka menawarkan bantuan bagi puluhan ribu orang yang terpaksa mengungsi akibat konflik itu.
Presiden Thein Sein melanjutkan bahwa kerusuhan Rakhine dipicu oleh insiden pembunuhan sadis terhadap seorang perempuan, yang kemudian memunculkan rasa untuk membalas dendam terhadap pelaku kejahatan tersebut. Jadi, lanjut Thein Sein, kerusuhan di Rakhine tidak ada hubungannya sama sekali dengan ras atau agama. Demikian sebagaimana diberitakan
VOA (Sabtu, 11/8)
Presiden Thein Sein melalui suratkabar lokal "
New Light of Myanmar" mengaku kecewa dengan pemberitaan media di negara-negara lain mengenai jumlah korban tewas dalam kerusuhan itu. Ia menegaskan bahwa data pemerintah Myanmar hanya mencatat 77 orang yang tewas dalam insiden tersebut., yaitu 31 Rakhine dan 46 dari etnis Rohingnya.[ian]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: