Rakyat Korut Pindah ke Lain Hati

Sepekan Ditinggal The Dear Leader

Minggu, 25 Desember 2011, 08:53 WIB
Rakyat Korut Pindah ke Lain Hati
ilustrasi/ist
RMOL.Sepekan sudah Korea Utara (Korut) ditinggal Kim Jong-il. Selama itu pula Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan memantau situasi di sana. Mereka menyimpulkan, transisi kekuasaan di negara tertutup itu bakal mulus di tengah meningkatnya dukungan rakyat kepada putra bungsu Kim Jong-il, Kim Jong-un.

Mulusnya proses transisi kekuasaan dari mendiang Kim Jong-il ke Kim Jong-un terlihat da­ri situasi keamanan Korut yang kondusif. Baik militer AS mau­pun Korsel tidak melihat per­gerakan aneh militer baik di ibu­kota Pyongyang maupun di se­panjang perbatasan.

Dari Washington, juru bicara Pentagon George Little berharap, transisi akan terus berjalan lancar. AS hingga kini tidak berencana menambah pasukannya di Kor­sel. Adapun Presiden Korsel Lee Myung-bak me­yakinkan Pyong­yang bahwa mereka tidak ber­musuhan.

“Kami terus memonitor situasi. Kami beroperasi sebagaimana biasanya di kawasan,” kata Ko­modor Ron Steiner, juru bicara Armada 7 AS berbasis di Jepang.

Tangisan dramatis warga terus berlangsung di pusat-pusat ka­wasan berkabung, didirikan pe­merintah di kota hingga ke pe­losok desa. Suasana ini masih akan ditemui hingga 29 De­sem­ber, hari terakhir berkabung na­sional setelah Kim Jong-il di­makamkan pada 28 Desember. Total masa berkabung, 10 hari sejak diumumkannya kematian Kim Jong-il di media pada 19 Desember.

Yang tak disangka adalah rak­yat Korut tidak begitu sulit pindah ke lain hati dari pe­mimpin yang me­reka juluki the Dear Leader (Pemimpin Ter­sayang).

“Kami merasakan kesedihan sa­ngat luar biasa setelah kehila­ngan pe­mim­pin. Tapi kami tidak hanya me­nangisi kepergiannya (Kim Jong-il),” kata Sok Kil-nam (24) pekerja di perusahaan baja kepada Asso­ciated Press.

“Selama kami memiliki kame­rad Kim Jong-un, penghormatan terhadap Jenderal Kim Jong-il terus berlanjut, sehingga kami akan melanjutkan hidup dan tidak akan meninggalkan peker­jaan,” imbuhnya.

Namun, kecemasan meliputi masyarakat biasa terkait kebi­jakan Korut melarang pemilik perahu China membawa turis di sepan­jang sungai yang berba­tasan dengan negara tersebut.

Korut melarang warga asing hadir di pemakaman Kim Jong-il di Kumsusan Me­morial Pa­lace, Pyongyang. Ha­nya pesulap Je­pang, Putri Tenko (51), di­undang untuk menghadiri acara sakral tersebut.

Kim Jong-Il meninggal Sabtu 17 Desember lalu pada usia 69 tahun akibat serangan jantung di dalam kereta pribadinya. Me­nurut media Korut, dia ke­lelahan karena melakukan per­jalanan untuk memberikan pe­ngarahan. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA