Unjuk rasa yang sejak awal telah ditentang oleh pemerintah dan dianggap melawan hukum ini, juga menyerukan bahwa kelompok koalisi pendukung Najib Rajak telah bertindak tidak
fair dalam melanggengkan kekuasaan selama 54 tahun. Menurut kelompok oposisi, tindakan seperti ini telah melahirkan praktek korupsi di tubuh pejabat pemerintahan Malaysia dan diskriminasi sosial terhadap hak warga negara untuk memilih kepala pemerintahnya secara jujur dan adil.
Meski pemerintah Malaysia telah mengerahkan kepolisian untuk mencegah demonstrasi tersebut, pihak oposisi tetap melangsungkan aksi
long march menuju Stadion Merdeka untuk sebuah rapat umum. Rapat umum ini telah direncanakan oleh kelompok oposisi sejak beberapa pekan terakhir.
Seperti dilansir
BBC (Sabtu 9/7) polisi Malaysia menembakkan gas air mata dan membubarkan lebih dari 20 ribu pengunjuk rasa anti pemerintah dan menahan 540 diantaranya, yang memadati jalan-jalan protokol di Kuala Lumpur. Dua tokoh oposisi, Ambiga Sreevinasan dan Maria Chin Abdullah turut diciduk.
Sehari sebelumnya, polisi telah menutup jalan protokol, stasiun-stasiun kereta api, dan menyiapkan meriam air di dekat stadion yang akan dijadikan lokasi rapat umum.
Akibat bentrokan tersebut, beberapa demonstran berlarian untuk menyelamatkan diri mereka dan membuat sejumlah restoran dan pertokoan memilih untuk tutup.
Kepolisian setempat mengatakan telah menahan 540 orang termasuk diantaranya adalah pimpinan utama kelompok oposisi. Sejumlah laporan internasional mengatakan bahwa aparat kepolisian menyeret paksa para demonstran dan memasukkan mereka ke dalam truk polisi.
[ald]
BERITA TERKAIT: