Sedikitnya, 15 orang tewas dalam demonstrasi menentang Presiden Bashar al Assad yang terjadi kemarin. Salah seorang demonstran mengatakan bahwa seusai shalat jumat, pasukan keamanan Suriah melepaskan gas air mata dan peluru tajam ke arah pengunjuk rasa yang menewaskan lima warga sipil dan beberapa lainnya luka-luka di Kiswah, selatan Damaskus. Tembakan para penembak jitu atau sniper juga menewaskan tiga pengunjuk rasa di Barzeh dan dua demonstran di Homs.
"Ada tentara, tank, gerombolan bersenjata, preman dan penembak jitu di atas gedung-gedung," ujar seorang saksi mata yang tak disebutkan namanya seperti dilansir
BBC (Sabtu, 25/6).
Kondisi mencekam yang terjadi di Suriah ini membuat Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton prihatin. Hillary mengatakan bahwa agresivitas yang dilakukan oleh para tentara Suriah telah mencapai taraf yang mengkhawatirkan dan harus segera diselesaikan. Uni Eropa membuat pernyataan sikap serupa mengecam kekerasan yang terjadi di Suriah karena sudah melewati batas kewajaran seorang rezim terhadap rakyatnya sendiri. Sementara itu Menteri Luar Negeri Inggris mengatakan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam dalam menyikapi masalah yang terjadi di suriah.
"Kami tidak akan diam diri, sementara rezim Suriah melakukan kekerasan untuk membungkam rakyatnya sendiri," ujar Menteri Luar Negeri Inggris William Hague seperti dilansir
AP (Sabtu, 25/6)
Sejak Maret lalu, tercatat 1.400 orang tewas dan ribuan lainnya ditahan oleh pemerintah saat menangani demonstrasi. Sementara itu, belasan ribu warga memilih untuk mengungsi ke Turki untuk mencari suaka.
[ald]
BERITA TERKAIT: