"Ini dilakukan untuk mencari akar permasalahan dan memberikan hasil observasinya untuk mencari pemecahan masalah wilayah tersebut," kata Jurubicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Michael Tene kepada
Rakyat Merdeka Online, Minggu (24/4).
Opsi kedua, imbuh Tene, kedua negara menyelesaikan konflik secara regional dan Indonesia bersedia memfasilitasi perundingan perdamaian kedua negara tersebut.
Ketika disinggung apakah kasus ini akan dibahas dalam KTT 18 di Jakarta, Michael Tene belum bisa memastikannya. "Saya tidak mau mendahului para pemimpin negara," lanjut Tene.
Sejak Jumat (22/4), tentara kedua negara terlibat beberapa kali bentrokan di perbatasan, tepatnya di sebelah barat kuil yang sudah berusia sekitar 900 tahun, Preah Vihear. Daerah yang disengketakan sejak tahun 2008 setelah UNESCO menetapkannya sebagai warisan umat sedunia (
common heritage of mankind). Bentrokan telah menewaskan tujuh tentara dan memaksa lebih dari 30.000 penduduk desa diperbatasan untuk sementara mengungsi ke tempat yang lebih aman.
[arp]
BERITA TERKAIT: