Penambahan kapasitas dilakukan melalui pengadaan mesin produksi dari Beyond, Tiongkok, yang akan ditempatkan di pabrik RAI di Manado, Sulawesi Utara, Sampit, Kalimantan Tengah, dan pabrik baru yang tengah dibangun di Riau.
"Karena permintaan hasil pengolahan kelapa di dunia terus meningkat, saat ini kami sedang membangun satu pabrik lagi di Riau, yakni PT Garuda Coco Industri," kata CEO PT RAI Johanna dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 18 September 2026.
Saat ini RAI menaungi tiga pabrik pengolahan kelapa, yakni PT Dewa Agricoco Industri (DAI) di Halmahera, Maluku Utara, PT Tri Mustika Cocomanaesa di Manado, dan PT Samuda Coco Indonesia di Sampit.
Mesin baru akan digunakan untuk menambah jalur produksi di pabrik Manado dan Sampit. Sementara di Riau, mesin tersebut menjadi bagian dari fasilitas produksi pabrik baru.
"Tahun depan, semua alat baru sudah bisa digunakan untuk produksi," ujar Johanna.
Dengan tambahan fasilitas tersebut, pabrik RAI di Riau diproyeksikan punya kapasitas pengolahan hingga 1 juta butir kelapa per hari. Sementara kapasitas pabrik Manado mencapai sekitar 500.000 butir, Sampit 350.000 butir, dan Halmahera 250.000 butir per hari.
"Artinya, PT RAI memiliki kapasitas untuk mengolah lebih dari 2 juta butir kelapa per hari," kata Johanna.
Peningkatan kapasitas tersebut juga akan memperluas produksi berbagai produk turunan kelapa, di antaranya
desiccated coconut low fat, desiccated coconut high fat, santan, arang,
cocofiber, cocopeat, dan
crude coconut oil.
Pemilik PT RAI Jerry Hermawan Lo mengatakan, pengembangan industri pengolahan kelapa merupakan bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri.
"Kalau dulu kelapa Indonesia diekspor dalam bentuk utuh atau kelapa bulat dengan harga murah, sekarang dengan pabrik ini kami bisa olah dulu sebelum diekspor. Tentu saja olahan kelapa memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi. Ini yang dinamakan hilirisasi kelapa," kata Jerry.
Saat ini produk olahan RAI telah dipasarkan ke lebih dari 33 negara, antara lain Jerman, Spanyol, Turki, Tiongkok, dan Amerika Serikat.
Hilirisasi juga membuka lapangan kerja dan memperluas keterlibatan petani dalam rantai industri. RAI saat ini bekerja sama dengan ribuan petani kelapa di sejumlah daerah serta memberikan pendampingan dan pelatihan untuk meningkatkan produktivitas.
Selain pengembangan industri, RAI menjalankan program Beasiswa Kelapa dengan menyisihkan Rp10 dari setiap butir kelapa yang diolah. Program tersebut ditargetkan membantu pendidikan 2.000 mahasiswa pertanian.
BERITA TERKAIT: