Tekanan terjadi pada mayoritas saham. Sebanyak 443 saham melemah, sementara 183 saham menguat dan 153 saham lainnya stagnan.
Sepuluh dari 11 indeks sektoral juga berakhir di zona merah. Pelemahan terdalam terjadi pada sektor konsumer nonsiklikal sebesar 1,25 persen, energi 1,22 persen, dan infrastruktur 1,20 persen. Sementara sektor kesehatan menjadi satu-satunya yang menguat, yakni 3,91 persen.
Aktivitas perdagangan tercatat cukup tinggi dengan volume mencapai 30 miliar saham dan nilai transaksi Rp14,7 triliun. Frekuensi transaksi mencapai 1,9 juta kali dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp11.470 triliun.
Tekanan juga terjadi pada pasar valuta asing. Mengutip data Bloomberg, Rupiah ditutup di level Rp17.611 per Dolar AS, melemah 64 poin atau 0,36 persen dari perdagangan sebelumnya.
Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap pasar tidak terlepas dari kembali memanasnya konflik AS dan Iran yang berisiko mengganggu pasokan energi global.
Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di dekat Selat Hormuz, sementara AS mengklaim melakukan serangan balasan dengan menenggelamkan lima kapal tanker Iran.
“Serangan-serangan tersebut menandai pertempuran terparah dalam beberapa bulan terakhir dan mengindikasikan minimnya tanda-tanda penurunan eskalasi konflik yang kini telah memasuki bulan ketujuh,” kata Ibrahim dalam risetnya.
Menurut Ibrahim, eskalasi konflik juga berpotensi mengganggu jalur pasokan minyak melalui kawasan strategis lainnya.
Serangan kelompok Houthi yang didukung Iran di Bab el-Mandeb dinilai berpotensi memutus jalur utama pasokan minyak Timur Tengah setelah Selat Hormuz. Kondisi tersebut dapat semakin mengganggu pasar minyak mentah dunia.
“Kondisi ini mendorong para pedagang untuk memperhitungkan premi risiko yang jauh lebih tinggi dalam harga minyak mentah,” jelasnya.
Sementara itu harga minyak mentah dunia telah menembus level 100 Dolar AS per barel. Bagi Indonesia yang merupakan importir neto minyak, kenaikan tersebut menjadi tantangan bagi ketahanan fiskal sekaligus stabilitas ekonomi.
“Dampak utama dan beban fiskal yang muncul akibat situasi tersebut adalah pembengkakan subsidi dan kompensasi energi membuat beban APBN meningkat,” tuturnya.
Ibrahim menjelaskan, kenaikan harga minyak di atas asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN akan meningkatkan kebutuhan anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi, termasuk BBM seperti Pertalite dan Solar serta LPG 3 kilogram.
“Apabila pemerintah memilih untuk tidak menaikkan harga BBM di tingkat eceran demi menjaga daya beli masyarakat, pemerintah harus menanggung selisih harga yang sangat besar yang berpotensi melebarkan defisit anggaran,” tuturnya.
Untuk perdagangan Senin, Ibrahim memprediksi Rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Ia memperkirakan Rupiah berada di rentang Rp17.610 hingga Rp17.650 per Dolar AS pada perdagangan awal pekan depan.
Sementara untuk sepekan ke depan, Rupiah diproyeksikan bergerak dalam kisaran Rp17.500 hingga Rp17.850 per Dolar AS.
BERITA TERKAIT: