Tekanan terhadap pasar keuangan terjadi di tengah meningkatnya kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya di kawasan Selat Hormuz.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup di level 6.121, merosot 26 poin atau 0,43 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Mayoritas saham berada di zona merah. Sebanyak 373 saham melemah, sementara 303 saham menguat dan 118 saham lainnya stagnan.
Aktivitas perdagangan tercatat cukup tinggi dengan volume mencapai 38 miliar saham dan nilai transaksi Rp13,2 triliun. Frekuensi transaksi mencapai 1,8 juta kali, sedangkan kapitalisasi pasar turun menjadi Rp10.781 triliun.
Pelemahan IHSG terjadi setelah BEI resmi memberlakukan penghapusan batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar.
Di pasar valuta asing, rupiah juga ikut tertekan. Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.981 per dolar AS, melemah 3 poin atau 0,02 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Meski melemah, pergerakan rupiah mulai turun dari sebelumnya sempat tertekan di atas Rp18.000 per Dolar AS.
Sebelumnya, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi global dan risiko fiskal.
Kondisi tersebut diperparah dengan kenaikan harga minyak dunia yang telah menembus 108 Dolar AS per barel di tengah konflik geopolitik di Timur Tengah.
"Pelemahan nilai tukar dipengaruhi oleh berlanjutnya kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal," kata Erwin dalam keterangan tertulisnya.
Menurutnya, perkembangan tersebut turut mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut.
Dampaknya, imbal hasil atau yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun kembali meningkat hingga 5,23 persen, yang merupakan level tertinggi sejak 2007.
Selain itu, tekanan rupiah, kata Erwin, juga datang dari faktor domestik. Kebutuhan valuta asing (valas) importir serta arus keluar dana dari portofolio aset negara-negara emerging markets ikut memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang.
"Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi," tandasnya.
Arus keluar tersebut terjadi seiring dengan kenaikan yield obligasi, sehingga investor cenderung mengurangi eksposur pada aset pasar berkembang.
BERITA TERKAIT: