Isu Rantai Dingin Hemat Energi Terus Bergulir di Tengah Pembangunan KNMP

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/adityo-nugroho-1'>ADITYO NUGROHO</a>
LAPORAN: ADITYO NUGROHO
  • Kamis, 10 September 2026, 21:58 WIB
Isu Rantai Dingin Hemat Energi Terus Bergulir di Tengah Pembangunan KNMP
Para pembicara seminar bertajuk “Penguatan Rantai Dingin untuk Mendukung Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), Kesejahteraan Nelayan, dan Ketahanan Pangan Indonesia” yang diprakarsai ASHRAE Indonesia Chapter bersama TITAN Containers dan PT DS Solutions International di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Kamis, 10 September 2026. (Foto: Dokumentasi RMOL)
Kecil Besar
rmol news logo Rantai dingin menjadi permasalahan serius guna mengoptimalkan program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang digagas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) demi terciptanya kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir.
 
Hal itu terurai dalam seminar bertajuk “Penguatan Rantai Dingin untuk Mendukung Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), Kesejahteraan Nelayan, dan Ketahanan Pangan Indonesia” yang diprakarsai ASHRAE Indonesia Chapter bersama TITAN Containers dan PT DS Solutions International di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Kamis, 10 September 2026.
 
Lewat diskusi panel dengan tema “Dari Laut ke Pasar: Membangun Ekosistem Rantai Dingin KNMP untuk Meningkatkan Nilai Hasil Tangkapan dan Kesejahteraan Nelayan” yang dimoderatori Presidential Member ASHRAE Indonesia Chapter, Herlin Herlianika, ulasan mengenai rantai dingin makin hangat.
 
Anggota Komisi IV DPR Prof. Rokhmin Dahuri yang bertindak sebagai salah satu pembicara dalam seminar itu mengemukakan bahwa peran rantai dingin sangat penting bagi keberhasilan KNMP.
 
“Kenapa rantai dingin penting? Sudah fakta bahwa ikan itu sekali lagi highly perishable commodity, jadi komoditas sangat mudah busuk gitu. Jadi kalau tanpa penanganan dingin ya cepat busuk, mutunya rendah, hasil jualnya murah,” ucap Rokhmin.
 
Legislator PDIP itu lantas menuturkan kondisi keberlimpahan ikan di Indonesia menjadi ironis mengingat kehidupan nelayan yang masih jauh dari sejahtera. Masalahnya, ikan yang tersentuh rantai dingin dalam persentase yang kecil.
 
“Jadi data tahun lalu kita memproduksi perikanan 26,6 juta ton. Jadi ikan, udang-udang, kerang-kerangan itu sekitar 15 juta tahun lah, gitu ya. Nah dari 15 juta ton itu yang baru tersentuh oleh rantai dingin baru 10 persen. Jadi gap-nya antara kondisi ideal dengan realitas itu masih jauh, ya itu 90 persen,” jelasnya.
 
Menteri Kelautan dan Perikanan era 2001-2004 ini menyebut bahwa pemilihan rantai dingin juga harus tepat dan zero emission, termasuk hemat listrik. Ia mencontohkan banyaknya cold storage yang dibangun pemerintah terdahulu kini banyak yang mangkrak.
 
“Jadi ada ratusan (atau) ribuan cold storage yang sudah dibangun KKP mangkrak gara-gara (sistem) konvensional, kaku dan salah menempatkan karena kan susah dipindah kalau sudah permanen,” tandasnya.   
     
Oleh karena itu, momen tersebut turut mengenalkan cold storage portabel untuk lebih efektif dan efisien terutama dalam mendukung keberhasilan KNMP.
 
Advisor TITAN Indonesia dari PT DS Solutions International Kelvin Lim memperkenalkan ArcticStore Horizon teknologi cold storage portabel berbasis panel surya besutan TITAN Containers yang mampu memangkas biaya listrik hingga 55 persen. Bila mengacu pada baseline Rp5.198.400 per bulan, potensi penghematan itu setara hingga Rp2.339.280 setiap bulannya.
 
“Kami tidak sedang menjual kontainer pendingin. Kami menjual efisiensi biaya operasional yang terukur, bukan janji. Penghematan hingga 55 persen ini kami sampaikan sebagai potensi realistis berdasarkan perhitungan riil, bukan sekadar klaim pemasaran tanpa dasar,” ujar Kelvin.
 
Ia menambahkan, empat keunggulan ArcticStore Horizon portabilitas, kecepatan instalasi, skalabilitas, dan efisiensi energi memungkinkan pelaku usaha menempatkan teknologi ini di titik-titik krusial rantai pasok, seperti pelabuhan perikanan, pusat distribusi, daerah berkembang, hingga saat puncak musim panen ketika kapasitas produksi melonjak melebihi daya tampung fasilitas yang ada.
 
“Persoalannya bukan lagi apakah kita butuh cold storage. Semua orang sudah tahu butuh. Pertanyaan yang lebih tajam adalah: cold storage seperti apa yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan operasional di lapangan, bukan yang paling gampang mereka beli,” tandasnya.
 
Menjawab Kebutuhan Rantai Dingin KNMP 
 
Senada dengan Kelvin, Director of Business and Partnerships TITAN Containers, Barbora Vorage membahas teknologi refrigerasi berkelanjutan untuk mendukung ekosistem rantai dingin KNMP. Wanita asal Denmark itu mengupas kecanggihan TITAN Coldstorage Portable sebagai teknologi pendingin yang bisa memangkas biaya energi.
 
Sementara itu peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr. Taufik Hidayat menyebut bahwa pihaknya sangat mendukung kebutuhan KNMP. Di antaranya dengan pengembangan teknologi untuk mendongkrak kesejahteraan nelayan.

Kami di BRIN sudah mengembangkan cold storage mini, portabel modular yang bisa dipindah-pindah. Dan kemudian teknologi slurry ice dan beberapa teknologi untuk bagaimana mempertahankan dari mutu ikan,” ujar Taufik.

Selain pembekuan, ia menjelaskan bahwa BRIN juga mengembangkan teknologi pengeringan untuk pembuatan ikan asin beserta teknologi pengolahan pascapanen.

“Jadi sebenarnya teknologi-teknologi kami ini yang sifatnya tepat guna. Kalau BRIN itu dari dapur hingga antariksa. Jadi, kami ini sangat cukup luas. Kalau khusus untuk kampung nelayan ini, kami memaklumi ya, Pak Presiden kita, bahwa ini adalah salah satu ekonomi big push strategy, jadi, langsung membangun dari bawah,” pungkasnya. rmol news logo article   



Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA