Kredit Tumbuh 13,6 Persen, DPK Mulai Tertinggal

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Sabtu, 05 September 2026, 16:24 WIB
Kredit Tumbuh 13,6 Persen, DPK Mulai Tertinggal
Ilustrasi (Foto: RMOL/Reni Erina)
Kecil Besar
rmol news logo Pertumbuhan kredit perbankan mulai bergerak lebih cepat dibandingkan penghimpunan dana masyarakat. 

Pada Juli 2026, kredit tumbuh 13,6 persen secara tahunan, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) hanya meningkat 11,21 persen.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan perubahan tersebut perlu mendapat perhatian karena pola ini berbeda dengan kondisi sebelumnya, ketika pertumbuhan DPK umumnya berada di atas kredit.

“Kalau sebelumnya di periode sebelumnya, DPK itu selalu tumbuh di atas kredit. Tapi belakangan kredit itu sudah tumbuh melebihi DPK,” kata Destry dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta, dikutip Sabtu 5 September 2026. 

Perubahan pola tersebut membuat BI lebih cermat melihat bank-bank yang mencatat pertumbuhan kredit tinggi, terutama ketika pertumbuhan tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan DPK.

“Kita perhatikan siapa bank yang tumbuh lebih cepat, siapa yang DPK-nya menurun, kita lihat secara granular. kita lihat bank-bank mana yang likuiditasnya ketat dan yang terlalu banyak. Nanti kita akan ambil kebijakan,” tegasnya.

Destry juga menyoroti sumber pertumbuhan kredit yang hingga kini masih banyak berasal dari pembiayaan yang berkaitan dengan pemerintah atau state-led growth.

Meski demikian, kontribusi sektor swasta mulai meningkat. Ia menyebut aktivitas pembiayaan yang berkaitan dengan Danantara menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru, selain segmen pemerintah non-BUMN.

Menurut Destry, perkembangan intermediasi tidak dapat dilepaskan dari kondisi likuiditas. Ketika kredit tumbuh lebih cepat daripada DPK, kemampuan perbankan dalam menyalurkan pembiayaan akan semakin bergantung pada ketersediaan sumber dana.

“Topiknya soal intermediasi dan likuiditas, ini dua hal yang berkorelasi. Soal likuiditas masih tersegmentasi, maka itu kita perlu kebijakan agar membuat ini merata. Kedua intermediasi sekarang masih state-lead di-drive oleh pemerintah dan iknb swasta danantara.”

Perubahan tersebut menjadi perhatian BI karena pertumbuhan kredit yang lebih cepat menunjukkan permintaan pembiayaan mulai menguat. Di sisi lain, pola penghimpunan dana masyarakat belum bergerak dengan kecepatan yang sama.

Dengan kondisi itu, BI perlu menjaga agar ekspansi kredit tetap berjalan tanpa menimbulkan tekanan pada kemampuan bank dalam memenuhi kebutuhan pendanaannya. rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA