Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup di level 6.374, melonjak 97 poin atau 1,56 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Mayoritas saham berada di zona hijau. Tercatat 448 saham menguat, sedangkan 186 saham melemah dan 159 saham lainnya stagnan.
Aktivitas perdagangan cukup tinggi dengan volume mencapai 36 miliar saham dan nilai transaksi Rp12,8 triliun. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 1,9 juta kali, sementara kapitalisasi pasar naik menjadi Rp11.169 triliun.
Sementara itu, nilai tukar Rupiah ikut menguat hari ini. Mengutip data Bloomberg, Rupiah ditutup di level Rp17.818 per Dolar AS, menguat 66 poin atau 0,37 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan Rupiah ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan menahan suku bunga di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari ini.
Sejalan dengan itu, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50 persen.
"Alasan utama BI Rate kembali dipertahankan iala stabilitas kurs rupiah masih terus bisa dijaga sekaligus mendorong tren pertumbuhan ekonomi Indonesia sambil menekan inflasi," kata Ibrahim dalam risetnya.
BI selanjutnya menyatakan akan terus memperkuat kebijakan insentif guna menarik aliran masuk modal asing. Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing.
Sementara, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran akan tetap diarahkan untuk memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Selain suku bunga, pasar kata Ibrahim juga menyambut penyelesaian utang Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) oleh pemerintah senilai Rp218 triliun kepada Bank Indonesia pada 24 Agustus 2026, yang menuntaskan kewajiban sejak masa krisis keuangan Asia tahun 1997-1998.
Kewajiban tersebut dibayarkan secara rutin melalui Anggaran Pendapatan Negara (APBN). Dalam membayar seluruh kewajiban, pemerintah menggunakan skema Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), dana tersebut bersumber dari sisa surplus BI yang dihasilkan dari kegiatan operasional.
"Penyelesaian utang ini dipandang sebagai tonggak sejarah penting bagi kebijakan makroekonomi Indonesia. Pemerintah melalui Menkeu Suahasil menekankan bahwa proses panjang ini harus menjadi pembelajaran luar biasa dalam mengelola keuangan negara di masa depan agar terhindar dari krisis serupa," tandasnya.
Ibrahim memprediksi pergerakan Rupiah masih akan fluktuatif pada perdagangan Kamis, 24 September 2026. Rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp17.810 hingga Rp17.860 per Dolar AS.
BERITA TERKAIT: