Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,24 persen menjadi 99,43. Sehari sebelumnya, indeks tersebut sempat menyentuh 99,73, level tertinggi sejak 17 Agustus 2026.
Dengan pergerakan tersebut, DXY berada di jalur mencatat penurunan bulanan selama dua bulan berturut-turut.
Pelemahan Dolar AS terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah pernyataan hawkish Chairman Federal Reserve Kevin Warsh. Ia menilai bank sentral masih memiliki pekerjaan untuk memastikan inflasi bergerak menuju target 2 persen.
Pernyataan itu membuat peluang kenaikan suku bunga pada rapat The Fed 15-16 September meningkat. Berdasarkan kontrak berjangka suku bunga, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan sebesar 64 persen, naik dari 35 persen sebelum komentar Warsh pada Jumat.
Meski demikian, arah kebijakan The Fed masih sangat bergantung pada data ekonomi Amerika Serikat. Investor kini menunggu laporan ketenagakerjaan Agustus yang akan dirilis Jumat. Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan perusahaan AS menambah sekitar 55.000 tenaga kerja.
Di pasar valuta asing, Euro menguat 0,27 persen menjadi 1,1615 Dolar AS. Sementara Poundsterling naik 0,07 persen ke 1,3544 Dolar AS.
Yen Jepang menguat 0,2 persen menjadi 159,77 per Dolar AS setelah sebelumnya kembali menembus level 160. Penguatan Yen turut dipengaruhi pernyataan Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang memperkirakan pemerintah dan bank sentral Jepang dapat mengambil langkah untuk memperkuat mata uang tersebut.
Selain data tenaga kerja, pasar juga akan mencermati data inflasi produsen AS pada 10 September dan inflasi konsumen sehari setelahnya. Kedua data tersebut akan menjadi petunjuk tambahan bagi investor dalam membaca arah kebijakan The Fed.
Meski Dolar AS masih bergerak melemah, perhatian pasar kini tertuju pada data ekonomi AS yang dapat menentukan apakah ekspektasi kenaikan suku bunga pada September benar-benar terwujud.
BERITA TERKAIT: