Mengutip data Bloomberg, Rupiah melemah 50 poin atau 0,28 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Prof Syafruddin Karimi menilai tekanan terhadap mata uang Garuda berpotensi semakin besar menyusul perubahan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Menurutnya, kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen bukan sekadar pengetatan moneter biasa. Pasar juga harus mencermati sinyal kenaikan suku bunga lanjutan hingga akhir 2026.
Sebanyak 16 dari 18 pembuat kebijakan The Fed memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga lagi sebelum tahun ini berakhir, sehingga membuat Rupiah semakin tertekan.
“Ancaman bagi rupiah bukan satu Fed hike, melainkan perubahan rezim dari higher-for-longer menjadi higher-again,” kata Syafruddin dalam risetnya.
Ia menjelaskan, kombinasi inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi dan kondisi ekonomi yang relatif kuat membuat ruang pengetatan moneter tetap terbuka.
Inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS diproyeksikan mencapai 3,7 persen pada 2026 dan baru kembali ke target 2 persen pada 2029. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi diperkirakan sebesar 2,3 persen dengan tingkat pengangguran 4,1 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan perekonomian AS masih cukup kuat untuk menghadapi kebijakan suku bunga ketat. Situasi ini sekaligus menjadi tantangan bagi negara berkembang, termasuk Indonesia.
Syafruddin menuturkan, kenaikan suku bunga The Fed dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis Dolar AS di mata investor global.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bahkan berada di kisaran 4,96 persen sesaat setelah keputusan The Fed.
“Investor akan membandingkan potensi keuntungan dari aset Rupiah dengan aset Dolar AS, termasuk memperhitungkan risiko pergerakan nilai tukar,” tuturnya.
Jika selisih imbal hasil semakin menyempit dan risiko pelemahan Rupiah meningkat, investor berpotensi mengalihkan modal ke aset berdenominasi Dolar AS.
“Dolar menguat, permintaan lindung nilai meningkat, dan tekanan terhadap rupiah dapat membesar. Karena itu, perubahan ekspektasi jalur Fed dapat memengaruhi rupiah bahkan sebelum kenaikan berikutnya benar-benar diumumkan kepada pasar,” tandasnya.
BERITA TERKAIT: