Pada penutupan perdagangan Rabu, 12 Agustus 2026, harga minyak Brent ditutup naik 7 sen menjadi 88,98 Dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga naik 7 sen menjadi 83,27 Dolar AS per barel.
Kenaikan harga minyak didorong oleh ketidakpastian pembicaraan antara AS dan Iran. Seorang sumber senior Iran mengatakan tidak ada pembicaraan antara kedua negara untuk memperpanjang gencatan senjata. Kondisi ini membuat pasar kembali khawatir konflik dapat berlanjut dan mengganggu aliran minyak dari Timur Tengah.
Kekhawatiran tersebut semakin besar setelah AS dan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melaporkan serangan terhadap kapal di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb. Kedua jalur tersebut sangat penting bagi perdagangan energi dunia.
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz bahkan turun tajam. Data perkapalan menunjukkan hanya delapan kapal yang melintasi selat tersebut pada Selasa, jauh di bawah kondisi sebelum perang ketika sekitar 125 hingga 140 kapal melewatinya setiap hari.
Namun, kenaikan harga minyak tertahan oleh kekhawatiran mengenai permintaan global. OPEC memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2026 menjadi 580.000 barel per hari.
Badan Energi Internasional (IEA) juga menurunkan proyeksinya dan memperkirakan permintaan minyak akan berkontraksi 1,6 juta barel per hari tahun ini. Di sisi lain, IEA memperkirakan pasokan global turun 4,3 juta barel per hari sehingga pasar masih berpotensi mengalami defisit sekitar 1,27 juta barel per hari.
Tekanan tambahan datang dari Amerika Serikat. Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan stok minyak mentah Amerika melonjak dengan kenaikan mingguan terbesar sejak Januari 2023. Lonjakan tersebut terutama dipicu oleh ekspor minyak mentah yang melemah dan peningkatan impor.
BERITA TERKAIT: