Penambahan rincian ini memungkinkan investor ritel maupun institusi untuk menganalisis komposisi serta struktur pemodal di balik suatu saham dengan jauh lebih mudah dan akurat.
Sebagai kelanjutan dari agenda transformasi tersebut, BEI saat ini sedang menyusun pengembangan sistem untuk menghadirkan satu kolom tambahan lagi, yaitu status afiliasi pemegang saham. Kehadiran kolom ini akan menjawab kebutuhan pasar akan kepastian apakah pemodal besar tersebut terikat hubungan bisnis atau manajemen dengan emiten, atau murni investor independen.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyampaikan bahwa transparansi atas tipe investor dan koneksi afiliasi ini sangat menentukan penilaian investor global terhadap integritas pasar modal Indonesia.
"Secara kualitatif, pada 2030, Bursa Efek Indonesia harus menjadi bursa kelas dunia yang tentunya memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia. Oleh sebab itu ada beberapa target yang akan kami tetapkan," kata Jeffrey, di Jakarta, dikutip Selasa 11 Agustus 2026.
Standardisasi data kepemilikan saham yang makin rinci ini menjadi pijakan vital bagi BEI untuk menyelaraskan diri dengan bursa-bursa utama dunia.
Dengan daya tarik pasar yang lebih transparan, BEI optimistis dapat menggaet aliran modal yang lebih besar guna mendukung pencapaian target jangka panjang tahun 2030, termasuk mendorong nilai kapitalisasi pasar hingga menembus setara 83 persen dari PDB nasional.
BERITA TERKAIT: