Jumlah saham baru tersebut setara dengan 50 persen dari total saham yang beredar.
Perseroan menetapkan skema 2:1, sehingga setiap dua saham lama memberikan hak kepada pemegang saham untuk membeli satu saham baru. Menurut manajemen, rasio tersebut dipilih agar target pendanaan dapat tercapai sekaligus menjaga tingkat dilusi pemegang saham pada batas maksimal sekitar 33,33 persen setelah right issue.
Aksi korporasi ini sempat mendapat sorotan dari Bursa Efek Indonesia (BEI), terutama terkait harga pelaksanaan yang berada di atas kisaran nilai wajar saham BAJA.
Menanggapi hal tersebut, manajemen menjelaskan bahwa harga right issue ditetapkan dengan mempertimbangkan rencana penyelesaian pokok utang afiliasi sebesar 20,6 juta Dolar AS dan bunga akrual senilai Rp127,76 miliar. Langkah tersebut diyakini akan memperkuat struktur permodalan perseroan.
"Setelah right issue, ekuitas perseroan diproyeksikan meningkat menjadi Rp460,87 miliar dari Rp10,87 miliar per 31 Maret 2026, sehingga menghasilkan struktur neraca keuangan yang lebih kuat," ujar manajemen dalam penjelasannya di keterbukaan informasi, dikutip redaksi di Jakarta, Senin 20 Juli 2026.
Perseroan juga menegaskan bahwa rencana right issue telah memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 31 Maret 2026. Enam pemegang saham pengendali memutuskan tidak menggunakan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) yang dimiliki.
"Itu merupakan keputusan investasi dan didukung pernyataan PT Sarana Steel sebagai pembeli siaga (standby buyer) atas sisa saham, sehingga tidak akan mengakibatkan perubahan pengendalian dalam perseroan," tulis manajemen.
Dari total dana yang dihimpun, sekitar 98,96 persen atau Rp445,32 miliar akan digunakan untuk melunasi seluruh utang kepada PT Sarana Steel. Sementara 1,04 persen atau Rp4,68 miliar, setelah dikurangi biaya emisi sebesar Rp2,58 miliar, akan dialokasikan untuk modal kerja, termasuk pembelian bahan baku.
Manajemen menilai penggunaan dana tersebut akan memberikan manfaat jangka panjang bagi seluruh pemegang saham.
"Penggunaan dana hasil right issue untuk menyelesaikan kewajiban kepada pihak afiliasi justru memberikan perlindungan dan manfaat maksimal bagi seluruh pemegang saham, termasuk pemegang saham publik," tegas perseroan.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tingginya volatilitas geopolitik, BAJA memilih memprioritaskan penguatan fundamental keuangan dibanding ekspansi agresif. Selama ini, utang afiliasi yang didominasi mata uang dolar AS membuat perseroan menghadapi risiko fluktuasi nilai tukar dan beban bunga yang menekan profitabilitas.
"Setelah utang tersebut dilunasi, beban keuangan akan berkurang sehingga potensi laba bersih di masa depan dapat dinikmati sepenuhnya oleh para pemegang saham. Perseroan juga akan memiliki posisi keuangan yang lebih sehat dan kapasitas yang lebih baik untuk memanfaatkan peluang bisnis serta memperoleh pendanaan dari perbankan," jelas manajemen.
Adapun jadwal right issue BAJA adalah cum right pada 24 Agustus 2026, ex right pada 26 Agustus 2026, dan recording date pada 27 Agustus 2026.
Perdagangan HMETD akan berlangsung pada 31 Agustus hingga 4 September 2026, sedangkan distribusi saham hasil pelaksanaan HMETD dijadwalkan pada 2–8 September 2026.
BERITA TERKAIT: