Keyakinan itu muncul setelah inflasi AS masih berada di atas target dan perekonomian tetap menunjukkan ketahanan.
Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan Dolar terhadap enam mata uang utama dunia, naik tipis 0,03 persen ke 101,17. Sepanjang kuartal II 2026, indeks ini diperkirakan menguat sekitar 1,3 persen, melanjutkan kenaikan 1,6 persen pada kuartal sebelumnya.
Penguatan Dolar juga didukung perbedaan kinerja ekonomi AS dengan negara-negara maju lainnya. Ekonomi Amerika dinilai masih lebih solid, sementara kawasan Eropa menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Arus modal ke aset-aset AS, termasuk saham Wall Street yang terdorong tren kecerdasan buatan (AI), turut menopang permintaan terhadap Dolar.
Pelaku pasar kini menantikan laporan ketenagakerjaan AS periode Juni yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut dipandang menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan suku bunga The Fed. Saat ini, pasar memperkirakan peluang sekitar 65 persen bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan September.
Di pasar valuta asing, penguatan Dolar paling terasa terhadap Yen Jepang yang kembali tertekan ke level terendah sejak 1986. Kondisi ini memicu spekulasi bahwa pemerintah Jepang semakin dekat untuk melakukan intervensi guna menahan pelemahan mata uangnya.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: