Penguatan didorong oleh meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve serta meningkatnya permintaan aset aman di tengah tekanan pada saham teknologi global.
Pelaku pasar semakin meyakini The Fed akan mempertahankan sikap hawkish setelah pertemuan kebijakan pekan lalu. Sejumlah pejabat bank sentral AS juga menegaskan bahwa inflasi masih menjadi perhatian utama meskipun perekonomian dinilai tetap solid.
Di saat yang sama, pelemahan saham teknologi menjelang laporan keuangan produsen chip Micron Technology turut mendorong investor beralih ke Dolar.
Indeks dolar AS (DXY) naik 0,19 persen menjadi 101,58 setelah sempat menyentuh 101,80, level tertinggi sejak 12 Mei 2025. Euro melemah 0,21 persen ke 1,1357 Dolar AS.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juli mencapai 34,2 persen, sedangkan probabilitas kenaikan pada September meningkat menjadi 67 persen. Investor kini menantikan data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS untuk Mei yang akan dirilis Kamis, sebagai indikator inflasi utama acuan The Fed.
Di pasar valuta asing lainnya, Poundsterling turun 0,29 persen ke 1,3165 Dolar AS setelah sempat menyentuh level terendah sejak November, dipicu ketidakpastian politik pasca pengunduran diri Perdana Menteri Keir Starmer.
Sementara itu, Dolar menguat 0,13 persen terhadap Yen Jepang menjadi 161,78 Yen. Mantan anggota dewan kebijakan Bank of Japan, Sayuri Shirai, memperkirakan Yen berpotensi melemah hingga 165 per Dolar AS apabila The Fed benar-benar menaikkan suku bunga tahun ini.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: