Rebound ini dipicu oleh melandainya imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10-tahun dari level tertingginya sejak Januari 2025, serta meredanya kekhawatiran inflasi berkat ekspektasi penyelesaian konflik di Timur Tengah yang menekan harga minyak mentah.
Pada penutupan perdagangan, Rabu 20 Mei 2026, emas spot melonjak 1,1 persen ke level 4.531,99 Dolar AS per ons, setelah sempat menyentuh titik terendah dalam tujuh pekan.
Sementara itu, emas berjangka AS kontrak Juni menguat tipis 0,1 persen ke posisi 4.535,30 Dolar AS per ons.
Analis mengatakan, potensi pembukaan kembali Selat Hormuz dapat menurunkan ekspektasi suku bunga dan menguntungkan aset non-yielding seperti emas.
Meski demikian, pasar tetap berhati-hati. Risalah Federal Reserve menunjukkan bank sentral AS masih membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi tetap di atas target 2 persen.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, peluang kenaikan bunga acuan di bulan Desember berada di angka 48,6 persen. Menyikapi ketidakpastian ini, bank investasi Citi bersikap konservatif dengan mempertahankan target harga emas jangka pendek di level 4.300 Dolar AS per ons.
Tren positif emas ikut memicu lonjakan harga pada komoditas logam mulia lainnya. Perak spot melesat paling tinggi sebesar 3,1 persen ke level 76,06 Dolar AS per ons. Platinum terangkat 1,6 persen menjadi 1.952,30 Dolar AS per ons. Sedanglan Paladium melonjak 1,5 persen ke posisi 1.373,62 Dolar AS per ons.
BERITA TERKAIT: