Pengesahan Warsh berlangsung ketat dengan hasil pemungutan suara 54 berbanding 45, menjadikannya salah satu proses persetujuan paling sengit dalam sejarah modern bank sentral AS. Hampir seluruh senator memilih mengikuti garis partai, dengan hanya Senator Demokrat Pennsylvania, John Fetterman, yang mendukung Warsh.
Penunjukan Warsh menjadi perhatian besar karena terjadi di tengah tekanan Presiden AS Donald Trump yang selama ini mendorong penurunan suku bunga. Trump sebelumnya kerap mengkritik Powell karena dianggap terlalu agresif menjaga kebijakan moneter ketat.
Namun, kondisi ekonomi terbaru justru membuat peluang pemangkasan suku bunga semakin terbatas. Data inflasi AS menunjukkan kenaikan harga masih jauh di atas target 2 persen The Fed. Tekanan biaya pembangunan infrastruktur juga tercatat mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun.
Situasi tersebut membuat pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi pemotongan suku bunga tahun ini. Bahkan, sebagian analis mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga kembali pada akhir 2026.
Juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, menyambut positif pengesahan Warsh.
“Pengesahan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya merupakan langkah penting untuk memulihkan akuntabilitas, kompetensi, dan kepercayaan dalam pengambilan keputusan The Fed,” kata Desai, dikutip dari [CNBC](https://www.cnbc.com?utm_source=chatgpt.com).
Sementara itu, anggota DPR AS dari Partai Republik, French Hill, menilai Warsh memiliki rekam jejak kuat dalam menghadapi inflasi.
“Warsh berulang kali menekankan pentingnya menjaga keterjangkauan dan stabilitas harga sebagai pusat agenda ekonomi,” ujar Hill.
Warsh bukan sosok baru di The Fed. Ia pernah menjabat sebagai gubernur bank sentral AS pada 2006-2011, termasuk saat krisis finansial global akibat runtuhnya pasar subprime mortgage. Pada periode tersebut, The Fed menjalankan kebijakan quantitative easing (QE) secara besar-besaran untuk menopang ekonomi AS.
Meski terlibat dalam masa krisis itu, Warsh dikenal sebagai salah satu pejabat yang menganggap program QE dilakukan terlalu agresif.
Setelah meninggalkan The Fed, Warsh kerap mengkritik arah kebijakan moneter bank sentral AS
Di luar dunia kebijakan moneter, Warsh juga aktif mengajar di Stanford Graduate School of Business serta duduk di sejumlah dewan direksi perusahaan.
Warsh akan menggantikan Stephen Miran di dewan gubernur The Fed. Miran sebelumnya dikenal sebagai pejabat yang konsisten mendukung pemangkasan suku bunga lebih agresif dibanding mayoritas anggota Federal Open Market Committee (FOMC).
Rapat pertama Warsh sebagai ketua FOMC dijadwalkan berlangsung pada 16-17 Juni mendatang. Pasar global kini menanti arah kebijakan moneter AS di bawah kepemimpinannya, terutama terkait suku bunga dan pengendalian inflasi.
Selain itu, Warsh juga disebut sebagai ketua The Fed terkaya dalam sejarah modern, dengan total kekayaan diperkirakan melebihi 100 juta dolar AS. Sesuai aturan etika terbaru The Fed, ia diwajibkan melepas sejumlah investasi pribadinya guna menghindari konflik kepentingan.
BERITA TERKAIT: