Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 4,94 persen ke level 5.889,48 pada penutupan sesi I, setelah sempat merosot lebih dalam hingga 5,13 persen selama perdagangan berlangsung.
Pelemahan terjadi secara merata di hampir seluruh sektor. Sebanyak 752 saham terkoreksi, hanya 38 saham yang menguat, sementara 169 saham bergerak stagnan.
Aktivitas perdagangan terpantau sangat tinggi dengan frekuensi transaksi mencapai 1,76 juta kali, volume 23,51 miliar saham, dan nilai transaksi sebesar Rp14,86 triliun.
Setelah menjadi penopang utama penguatan IHSG pada perdagangan sebelumnya, saham-saham berkapitalisasi besar justru berbalik menjadi pemberat indeks.
Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) tumbang hingga menyentuh Auto Rejection Bawah (ARB) dengan penurunan 14,91 persen, menjadi salah satu kontributor terbesar pelemahan indeks.
Saham-saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu, yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT), juga memberikan tekanan signifikan. Di sektor perbankan, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turut menjadi beban utama bagi pergerakan IHSG.
Pelaku pasar menilai tekanan jual yang masif tidak terlepas dari aksi keluar investor asing menyusul efektifnya penyesuaian bobot atau rebalancing indeks MSCI per 1 Juni 2026.
Rebalancing MSCI biasanya mendorong manajer investasi global untuk menyesuaikan portofolionya sesuai komposisi indeks terbaru. Ketika bobot saham Indonesia dikurangi atau keluar dari indeks acuan tersebut, dana asing, terutama yang dikelola secara pasif, cenderung melakukan penjualan dalam jumlah besar.
Di saat yang sama, tekanan juga menghantam pasar valuta asing. Berdasarkan data Refinitiv pukul 11.00 WIB, nilai tukar Rupiah melemah 0,4 persen ke level Rp17.925 per Dolar AS. Posisi tersebut menjadi rekor terlemah sepanjang sejarah dan semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per Dolar AS.
Pelemahan Rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Selain keluarnya dana asing dari pasar saham dan obligasi akibat rebalancing MSCI, penguatan dolar AS secara global yang ditopang kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve turut meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
BERITA TERKAIT: