Sentimen investor terdorong oleh kabar dari Amerika Serikat (AS) di mana Presiden Donald Trump memutuskan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran selama dua minggu. Keputusan ini memberi harapan meredanya konflik, meski situasi di Timur Tengah masih belum sepenuhnya stabil.
Dikutip dari
CNBC International, Di Jepang, indeks Nikkei 225 sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di level 60.013 sebelum akhirnya turun tipis sekitar 0,3 persen akibat aksi ambil untung.
Sementara indeks Kospi Korea Selatan justru terus menguat dan mencetak rekor intraday baru, naik lebih dari 1 persen.
Di Australia, indeks S&P/ASX 200 bergerak fluktuatif dan ditutup melemah sekitar 0,7 persen. Pasar saham Hong Kong melalui indeks Hang Seng Index juga terkoreksi sekitar 0,5 persen, sementara indeks Shanghai di China turun tipis. Di sisi lain, indeks CSI300 China justru mencatat kenaikan ringan.
Kenaikan pasar di Asia juga didukung oleh performa ekonomi dan sektor korporasi. Di Jepang, aktivitas manufaktur meningkat ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir, didorong peningkatan produksi akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari konflik Timur Tengah. Saham SoftBank Group melonjak lebih dari 6 persen setelah muncul kabar perusahaan tersebut berencana menambah utang besar untuk ekspansi kecerdasan buatan (AI).
Di Korea Selatan, ekonomi tumbuh 1,7 persen pada kuartal pertama, melampaui ekspektasi pasar dan menjadi pertumbuhan tercepat sejak 2020. Saham Samsung Electronics juga mencetak rekor harga baru, mencerminkan optimisme investor terhadap sektor teknologi. Meski begitu, pasar juga mencermati potensi aksi mogok pekerja yang bisa memengaruhi produksi ke depan.
BERITA TERKAIT: