Selamat Idul Fitri Mudik

Likuiditas Februari Tumbuh 8,7 Persen, Ditopang Belanja Pemerintah dan Kredit

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Sabtu, 28 Maret 2026, 13:38 WIB
Likuiditas Februari Tumbuh 8,7 Persen, Ditopang Belanja Pemerintah dan Kredit
Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)
rmol news logo Bank Indonesia merilis data likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) yang menunjukkan pertumbuhan positif berkelanjutan hingga Februari 2026. 

Posisi M2 pada periode ini tercatat berada di angka Rp10.089,9 triliun dengan kenaikan sebesar 8,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini mencerminkan adanya normalisasi jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada Januari 2026 yang sempat menyentuh level 10,0 persen yoy.

"Pertumbuhan yang stabil ini ditopang secara kuat oleh komponen uang beredar sempit (M1) yang melesat hingga 14,4 persen yoy, serta kontribusi uang kuasi yang tercatat tumbuh 3,1 persen yoy," terang Kepala Departemen BI Ramdan Denny Prakoso, di Jakarta, dikutip Sabtu 28 Maret 2026. 

Bank sentral menegaskan bahwa dinamika likuiditas pada Februari ini sangat dipengaruhi oleh aktivitas keuangan Pemerintah Pusat serta laju penyaluran kredit perbankan. 

Tagihan bersih kepada pemerintah bahkan mengalami akselerasi pertumbuhan menjadi 25,6 persen yoy, sebuah peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan capaian bulan sebelumnya yang sebesar 22,6 persen yoy.

Di sisi lain, penyaluran kredit perbankan tetap berada dalam zona ekspansi sebesar 8,9 persen yoy meskipun sedikit melambat dari angka 10,2 persen yoy pada Januari. 

Penurunan tipis dalam laju kredit ini merupakan bagian dari penyesuaian pasar terhadap kondisi suku bunga global yang masih dinamis di awal kuartal I-2026. Bank Indonesia memandang bahwa ketersediaan likuiditas saat ini masih sangat memadai untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional dan menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah fluktuasi pasar internasional.

Sebagai informasi tambahan terbaru, Bank Indonesia juga terus memperkuat kebijakan makroprudensial untuk memastikan bahwa perlambatan tipis pada pertumbuhan kredit tidak mengganggu target pertumbuhan ekonomi tahunan. 

Selain itu, sinkronisasi kebijakan antara otoritas moneter dan pemerintah melalui optimalisasi belanja negara diproyeksikan akan kembali memacu peredaran uang pada bulan-bulan mendatang, terutama menjelang peningkatan konsumsi domestik di pertengahan tahun. rmol news logo article
EDITOR: RENI ERINA

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA