Libur panjang membuat momentum perdagangan rapuh, memicu pelemahan Rupiah selama enam hari berturut-turut sekaligus mengunci penurunan mingguan kesembilan secara beruntun.
Sepanjang tahun ini berjalan, Rupiah sudah rontok 6,4 persen, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia.
Tekanan ganda datang dari luar dan dalam negeri. Dari global, indeks dolar AS perkasa menuju level tertinggi tujuh minggu setelah serangan militer AS ke Iran meredupkan harapan damai dan memicu kecemasan inflasi global. Dari domestik, pasar dilanda kecemasan menanti rilis data inflasi dan perdagangan pekan depan, mengingat lonjakan harga energi berpotensi merusak kestabilan inflasi.
Meskipun Bank Indonesia sudah mengambil langkah berani dengan menaikkan suku bunga di atas ekspektasi pada pertengahan Mei, jurus tersebut belum cukup ampuh. Rupiah tetap tak bertenaga menghadapi kombinasi defisit fiskal, kinerja ekspor-impor yang loyo, serta derasnya arus modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik.
BERITA TERKAIT: