“Enggak ada kita impor ayam sama beras. Beras kita sudah surplus 1,2 juta ton tahun 2022. Tahun ini produksinya saya kira akan jauh lebih tinggi lagi,” ujar Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Kamis, 26 Februari 2026.
Bahkan, lanjutnya, Indonesia mulai melakukan ekspor beras ke luar negeri. Ekspor perdana dijadwalkan berlangsung pada 28 Februari dengan volume mencapai 2.280 ton ke Arab Saudi.
“Oleh karena itu kita baru ekspor perdana ini ke Arab Saudi, tanggal 28 besok, 2.280 ton ekspor beras kita,” tegasnya.
Zulhas optimistis tren surplus tidak hanya terjadi sementara. Ia meyakini produksi pangan nasional, terutama beras dan jagung, akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang.
“Insyaallah tahun kemarin dan selanjutnya kita akan surplus semakin meningkat: beras, jagung,” kata Ketua Umum PAN ini.
Tak hanya itu, pemerintah juga menargetkan swasembada protein secara besar-besaran pada tahun ini, mencakup komoditas ikan, ayam, dan telur. Kementerian Perdagangan, kata Zulhas, telah mengumumkan rencana pembangunan pabrik pakan dan fasilitas pembibitan DOC (day old chick).
“DOC-DOC itu tentu dari GPS ke parent stock baru DOC, untuk disebar seluruh Indonesia,” jelasnya.
Sejumlah daerah akan menjadi lokasi pengembangan, di antaranya Lampung dan Semarang. Pemerintah menargetkan produksi protein meningkat signifikan melalui pembangunan sentra-sentra produksi tersebut.
Di sektor perikanan, pemerintah akan membangun 2.000 kampung nelayan dan 20.000 hektare tambak tahun ini guna memperkuat ketahanan pangan berbasis protein.
“Maka saya muter terus, terus memastikan itu berjalan dengan baik. Ayam, ikan ya, dan protein lainnya,” pungkasnya.
Sebelumnya, pemerintah Indonesia bakal mengimpor 1.000 ton beras dan 580.000 ayam dari Amerika Serikat (AS). Impor ini sebagai bagian dari perjanjian perdagangan resiprokal.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan jenis beras yang diimpor merupakan beras klasifikasi khusus. Realisasi impor sendiri akan menyesuaikan permintaan dalam negeri.
"Pemerintah setuju memberikan alokasi impor untuk beras klasifikasi khusus asal AS, namun tetap realisasinya tergantung permintaan dalam negeri," ujar Haryo dalam keterangan tertulis, dikutip Senin, 23 Februari 2026.
BERITA TERKAIT: