Pelemahan rupiah yang terus berlanjut membawa dampak berantai, mulai dari kenaikan harga barang impor, tekanan terhadap biaya produksi, hingga potensi lonjakan inflasi di dalam negeri. Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Rijadh Djatu Winardi, menyebut kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok.
Hal tersebut dipicu oleh meningkatnya harga bahan baku impor dalam rupiah. Mengutip laman resmi UGM pada Minggu (17/5/2026), Rijadh menjelaskan bahwa ketergantungan perusahaan terhadap bahan baku impor membuat pelaku usaha pada akhirnya harus menyesuaikan harga jual dalam beberapa bulan ke depan.
Berikut sejumlah dampak pelemahan rupiah terhadap dolar AS:
1. Biaya Transportasi dan Kesehatan Naik
Dampak pelemahan rupiah tidak hanya terasa pada harga kebutuhan pokok. Kenaikan harga bahan bakar dan obat-obatan impor juga berpotensi mendorong biaya transportasi dan layanan kesehatan.
“Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok yang meningkat, biaya transportasi yang naik, hingga harga produk kesehatan yang ikut terdampak,” ujar Rijadh.
2. Beban Subsidi dan Utang Meningkat
Ketergantungan pada impor turut meningkatkan beban subsidi energi saat nilai tukar melemah. Selain itu, nilai pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri dalam rupiah ikut membesar, meskipun nilainya tetap dalam denominasi dolar AS.
3. Pembiayaan Sektor Tertekan
Kenaikan beban subsidi dan utang berpotensi membatasi ruang fiskal pemerintah. Akibatnya, alokasi pembiayaan untuk sektor penting lain, seperti pendidikan dan pembangunan, bisa ikut terdampak.
4. Daya Beli Masyarakat Menurun
Kenaikan harga barang yang tidak diimbangi peningkatan pendapatan membuat daya beli masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah, semakin tertekan. Banyak rumah tangga mulai mengurangi konsumsi atau beralih ke produk yang lebih terjangkau.
5. Ancaman Terhadap UMKM
Dampak pelemahan rupiah juga dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Biaya produksi meningkat akibat bahan baku impor yang lebih mahal, sementara pelaku usaha dengan pinjaman dolar menghadapi beban cicilan yang membengkak.
Di sisi lain, penurunan daya beli masyarakat dan melemahnya minat investor turut menekan omzet serta akses pendanaan UMKM.
BERITA TERKAIT: