Secara teknis, tekanan terutama datang dari kombinasi faktor makroekonomi dan geopolitik yang berkembang sepanjang akhir pekan. Sentimen pasar berubah menjadi menghindari risiko (risk-off) akibat sejumlah isu, mulai dari penutupan sebagian pemerintahan Amerika Serikat (AS), meningkatnya retorika perang dagang, hingga naiknya imbal hasil obligasi pemerintah Jepang.
Di sisi geopolitik, ketegangan di Iran dan Laut Cina Selatan turut menambah kekhawatiran investor.
Di saat yang sama, pasar kripto juga mengalami pelepasan leverage secara besar-besaran. Aksi jual tajam memicu likuidasi aset kripto senilai lebih dari 5,42 miliar Dolar AS sejak Kamis lalu. Minat terbuka (open interest) Bitcoin merosot ke level terendah dalam sembilan bulan, yakni sekitar 24,17 miliar Dolar AS.
Tekanan ini turut menciptakan celah (gap) pada kontrak berjangka CME Bitcoin sebesar 8 persen, di kisaran 77.000-84.000 Dolar AS, yang tercatat sebagai salah satu gap terbesar sejak 2017.
Sentimen investor semakin tertekan dengan munculnya sinyal ketakutan ekstrem di pasar. Pada 2 Februari, Indeks Ketakutan dan Keserakahan versi CoinMarketCap berada di level 15, yang mencerminkan kondisi “ketakutan ekstrem”. Bersamaan dengan itu, ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus keluar dana yang sangat besar.
Dalam sepekan terakhir, terjadi arus keluar mingguan terbesar kedua dan ketiga sepanjang sejarah ETF Bitcoin spot, termasuk arus keluar harian sebesar 817 juta Dolar AS pada Kamis, yang terutama berasal dari ETF IBIT milik BlackRock dan FBTC milik Fidelity.
Ke depan, perhatian pasar tertuju pada kemampuan Bitcoin untuk bertahan di zona 75.000-76.000 Dolar AS, yang berada dekat dengan harga pokok kepemilikan MicroStrategy serta titik terendah terbaru. Selain itu, pelaku pasar juga menunggu apakah arus dana ETF Bitcoin spot dapat kembali berbalik positif dalam beberapa hari mendatang, yang berpotensi menjadi penopang sentimen setelah tekanan jual yang intens ini.
BERITA TERKAIT: