Salah satu pendorong utama kenaikan harga adalah fenomena short squeeze. Kondisi ini terjadi ketika para trader yang bertaruh harga akan turun, terpaksa membeli kembali Bitcoin untuk menutup posisi mereka setelah harga justru naik.
Dalam 24 jam terakhir, lebih dari 289 juta Dolar AS posisi Bitcoin dilikuidasi, sementara likuidasi posisi short melonjak hampir 300 persen. Aksi beli paksa tersebut ikut mempercepat kenaikan harga.
Selain faktor teknikal, pasar juga mencermati perkembangan geopolitik global. Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah membuat investor mencari alternatif investasi di tengah tekanan pada sejumlah aset berisiko tradisional. Di Asia, misalnya, indeks saham Korea Selatan, KOSPI, sempat mengalami tekanan tajam akibat meningkatnya kekhawatiran pasar.
Dari sisi analisis teknikal, Bitcoin berhasil bertahan di area support penting sekitar 62.426 Dolar AS. Level ini dianggap sebagai titik pertahanan utama yang sedang dipantau banyak trader untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya.
Dalam jangka pendek, Bitcoin perlu menjaga pergerakan di kisaran support 62.426-62.827 Dolar AS agar tren pemulihan tetap berlanjut. Jika mampu menembus level resistensi di sekitar 63.324 Dolar AS, harga berpotensi melanjutkan kenaikan menuju area 64.128 Dolar AS.
Meski demikian, arah pasar kripto dalam beberapa pekan ke depan masih sangat dipengaruhi faktor makroekonomi. Salah satu agenda yang paling dinantikan investor adalah rapat kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, pada 16-17 Juni. Keputusan suku bunga dari The Fed diperkirakan akan menjadi penentu utama sentimen pasar dan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.
BERITA TERKAIT: