Indeks ASX 200 Australia terpantau turun 0,57 persen dan masih melemah 0,55 persen. Di Korea Selatan, indeks Kospi sempat anjlok lebih dari 2,5 persen saat pembukaan, sementara indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq terperosok hingga 3 perden.
Pada perkembangan berikutnya, Kospi tercatat turun 0,62 persen ke level 5.191,88. Sebaliknya, bursa Jepang justru menguat, dengan Nikkei 225 melonjak 1,72 persen ke 54.218,41 dan Topix naik 0,52 persen. Sementara itu, kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong berada di level 27.330, lebih rendah dibanding penutupan terakhir indeks acuannya.
Sentimen negatif pasar Asia juga dipicu oleh kejatuhan tajam harga logam mulia. Harga perak rontok sekitar 30 persen pada Jumat lalu, mencatatkan penurunan harian terburuk sejak 1980, setelah sebelumnya melonjak lebih dari dua kali lipat dalam 12 bulan terakhir. Harga emas turut ambles sekitar 9 persen.
Di tanah air, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat, meski tekanan jual asing masih membayangi. Pada akhir pekan lalu, IHSG ditutup naik 1,18 perssn ke level 8.329,60, namun secara mingguan masih turun tajam 6,94 persen.
Sejumlah analis menilai IHSG masih memiliki peluang melanjutkan technical rebound pada pekan ini, meski sentimen negatif terkait MSCI dan ancaman downgrade masih menjadi bayang-bayang. Secara teknikal, IHSG berpeluang menguji level 8.500 pada awal pekan, dengan target lanjutan menuju 9.000.
BERITA TERKAIT: