Data CoinMarketCap menunjukkan penurunan ini dipicu oleh kelemahan teknikal, setelah Bitcoin gagal bertahan di level 121.700 Dolar AS, ambang psikologis bagi para trader.
Secara teknikal, indikator MACD masih menandakan dorongan beli, namun RSI (Relative Strength Index) mendekati area jenuh beli. Kondisi ini membuat sistem perdagangan otomatis seperti stop-loss.
Jika pembeli tidak segera mengangkat harga kembali, Bitcoin berpotensi menguji level dukungan berikutnya di 116.500 Dolar AS atau sekitar Rp1,88 miliar.
Selain faktor teknikal, tekanan juga datang dari risalah rapat The Federal Reserve (The Fed) yang menunjukkan perbedaan pandangan terkait pemangkasan suku bunga pada 2025. Sekitar separuh anggota dewan memperkirakan masih akan ada dua kali pemangkasan lagi, namun waktu pelaksanaannya belum jelas.
Situasi ini membuat pasar memperkirakan Dolar AS akan tetap kuat lebih lama, yang biasanya berdampak negatif pada harga kripto. Para analis menilai, volatilitas Bitcoin bisa meningkat dalam beberapa pekan ke depan sambil menunggu kepastian arah kebijakan The Fed.
Dalam sembilan hari terakhir, total investasi baru ke ETF Bitcoin mencapai 198 juta Dolar AS per 9 Oktober 2025.
BERITA TERKAIT: