Pandemik Covid-19 Mengubah Kebiasaan Transaksi Orang Jerman

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Jumat, 15 Mei 2020, 08:25 WIB
Pandemik Covid-19 Mengubah Kebiasaan Transaksi Orang Jerman
Ilustrasi, warga bertransaksi dengan pembayaran no tunai di tengah pandemik/Net
rmol news logo Pandemik Covid-19 telah mengubah kebiasaan banyak orang. Saat ini orang sangat berhati-hati dan menghindari kontak, termasuk ketika melakukan pembayaran. Apalagi uang menjadi media yang paling dekat dengan penyebaran virus.  

Orang Jerman yang terkenal dengan ‘Raja Uang Tunai’ karena kebiasaan mereka yang lebih memilih melakukan segala transaksi dengan uang tunai, kini mengubah kebiasaan itu.

Jerman, walaupun maju secara teknologi, mereka tetap setia membayar dengan cara tunai. Menurut laporan Bank Sentral Eropa (ECB), hal itu karena bertransaksi dengan tunai memudahkan mereka melacak uang dan pengeluaran mereka. Dengan demikian, mereka bisa mengelola anggaran secara lebih efektif.

Apalagi Jerman tidak suka berutang. Penggunaan kartu kredit di Jerman sangat kecil. Hanya 33 persen dari Warga Jerman mengaku memiliki kartu kredit sejak 2011, yang sebagian besar juga tak mereka pakai. Restoran dan tempat bisnis lainnya pun banyak yang menolak pembayaran dengan kartu.

Kebiasaan orang Jerman membayar dengan uang tunai selama ini sebenarnya bisa disebut pemborosan. Pemerintah harus menyediaan jutaan uang kertas euro dan miliaran uang logam, dan pengelolaan sekitar 58.000 mesin ATM yang digunakan publik untuk mengambil uang tunai atau bertransaksi dengan bank.

Transaksi dengan uang tunai juga membuat biaya pengelolaan menjadi cukup tinggi, karena semua uang itu harus diproses. Uang harus dihitung, disimpan dan diangkut ke bank dan dimasukkan ke mesin-mesin ATM. Uang yang masuk ke kas juga perlu disortir, dan dari toko dan supermarket dibawa kembali ke bank. Biaya ini secara global diperkirakan menghabiskan 0,5 persen dari Produk Domestik Brutto dunia.

Menurut sebuah survei yang dilakukan bank sentral Jerman Bundesbank untuk tahun 2017, 74 persen transaksi di Jerman dilakukan dengan uang tunai, terutama untuk jumlah di bawah 50 euro.

Namun, pandemik telah mengubah semuanya. Perlahan Jerman mulai terbiasa melakukan transaksi non tunai untuk mencegah terjadinya penularan. Pembelian online juga makin marak untuk barang-barang rumah tangga, yang biasanya bisa dibeli di supermarket.

Dengan penerapan lockdown dan pembatasan kegiatan di Jerman, makin banyak orang memesan makanan secara online. Yang itu berarti penggunaan uang non tunai perlahan telah mengubah kebiasaan mereka. Perubahan ini tampaknya akan tetap dipertahankan setelah pandemi berlalu.
Saat ini, ada 57 persen orang Jerman yang memilih menggunakan kartu debit untuk pembayaran. Direktur IDZ Ingo Limburg menerangkan, tren ini kemungkinan akan makin kuat lagi. "Tren pembayaran dengan kartu akan meningkat dengan cepat," katanya, seperti dikutip dari DW, Kamis (14/5).
Ingo Limburg juga yakin makin banyak orang Jerman yang secara permanen beralih dari kebiasaan membayar dengan uang tunai ke sistem pembayaran elektronik. Karena pelanggan dan pembeli akan menikmati kemudahan yang ditawarkan sistem elektronik.

Jadi, dompet orang Jerman kelihatannya akan semakin tipis, ketika setumpuk uang kertas dan logam digantikan oleh beberapa kartu saja.  rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA