Rizal Ramli Sarankan Pemerintah Tiru Thailand Dalam Mengatur Eksportir

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Kamis, 27 Juli 2017, 18:14 WIB
Rizal Ramli Sarankan Pemerintah Tiru Thailand Dalam Mengatur Eksportir
Rizal Ramli/net
rmol news logo Pakar Ekonomi Rizal Ramli kembali meminta agar redenominasi rupiah jangan dijadikan prioritas oleh pemerintahan Jokowi-JK ditengah kondisi ekonomi masyarakat dan rupiah yang melemah.

Rizal pun menyarankan pemerintah untuk mengatur agar exportir  wajib simpan dananya di dalam negeri (RI) agar cadangan devisa naik dan rupiah stabil.

Mantan Menteri Kooridnator Bidang Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini pun mencontohkan Thailand yang mengharuskan eksportir di negaranya untuk menyimpan dana (dolar AS) sebanyak 90 persen di rekening dalam negeri mereka.

"Daripada redenominasi, lebih baik atur agar exportir wajib simpan dolar AS nya di RI agar cadangan naik, rupiah stabil. Thailand 90 persen di account dalam negeri," kicau Rizal lewat akun twitter pribadinya @Ramlirizal, Kamis (27/7).

Sebelumnya, Rizal pun menceritakan Jepang pada tahun 1950 hingga 1970, tepatnya setelah Perdana Menteri Ikeda, bisa tumbuh lebih dari 12 persen karena kurs yang sangat kompetitif (strategic currency depreciation).

"Export Jepang melonjak tinggi, impor turun karena mahal (nasionalisme dalam praktek, bukan retorika)!," kata mantan Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya itu.

Tak hanya Jepang, mantan Kepala Bulog ini juga membeberkan jika China juga ikuti strategi super kompetitif exchange rate dan hasilnya bisa tumbuh lebih dari 13 peren selama 20 tahun.

"Presiden Amerika, Bush, Clinton, Obama ke Beijing tekan agar Kurs Remimbi diperkuat, China menolak," ungkap Rizal.

Rizal menambahakan berbekal kurs super kompetitif itu, ekspor dan ekonomi Jepang tumbuh lebih dari 10 persen. Namun sayang, pertumbuhan itu tak bertahan lama.

"US & EC kalah saing, di Plaza Hotel tahun 1986, mereka tekan Jepang untuk memperkuat kurs Yen (Plaza Accord). Jepang menyerah, pertumbuhan ekonominya setelah itu menjadi sangat lambat (slow growth)," urai Rizal.

Fakta itulah yang membuat Rizal menyimpulkan jika wacana redenominasi atau penyederhanaan mata uang rupiah jangan dijadikan prioritas di tengah situasi ekonomi seperti saat ini. Redonominasi kata mantan Komisaris Utama Semen Gresik itu membutuhkan biaya yang besar untuk cetak uang baru dan sebagainya.

Rizal menyarankan, tim ekonomi Jokowi sebaiknya fokus menggenjot sektor riil guna mempercepat roda perekonomian nasional.[san]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA