Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong mengataÂkan, target investasi tersebut bisa dicapai dalam kurun waktu 3-4 tahun. "Kalau saya total semua proyek-proyek yang kita sedang coba untuk garap kira-kira nilainya Rp 39 triliun-Rp 40 triliun," ujarnya di sela-sela acara Indonesia-Australia BusiÂness Week di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, sejumlah peÂrusahaan pertambangan yang terbesar di dunia berasal dari Australia. Karena itu, Lembong berharap, perusahaan asal Negeri Kanguru yang unggul di sektor pertambangan dapat menanamÂkan modalnya di Indonesia.
Bekas Menteri Perdagangan ini juga optimistis kedua negara dapat menjalin kerja sama yang saling menguntungkan di sektor pariwisata. Menurut dia, IndoÂnesia memiliki banyak destinasi menyelam kelas dunia, tapi yang memiliki industri wisata bahari adalah Australia.
Menurut Lembong, Australia juga memiliki manajemen pariÂwisata yang baik sehingga IndoÂnesia butuh belajar dari mereka untuk mengembangkan sektor pariwisata di Tanah Air. "Kapal-kapal pesiar sementara ini AusÂtralia sangat unggul, ini yang lagi dikembangkan," kata Lembong.
Selain itu, kata dia, Australia juga berminat melanjutkan kerja sama di bidang peternakan sapi. Sebab, kebutuhan daging IndoÂnesia sangat besar dan potensial. Jika kerja sama ini lancar, maka bisa jadi kebutuhan daging naÂsional akan tercukupi.
"Tentu ini kemitraan yang bagus, kedua negara memiliki kemampuan masing-masing unÂtuk urusan ternak kita harapkan hasilnya bisa sangat baik," kata Lembong.
Lembong optimistis, kedua negara dapat menghasilkan kerja sama yang kongkret dan saling menguntungkan karena IndoneÂsia dan Australia memiliki perÂtemuan bisnis berkelanjutan tiap empat bulan sekali. Selain itu, jarak yang relatif dekat antara kedua negara juga menjadi keÂuntungan tersendiri.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani melihat, kerja sama peÂternakan dengan Australia bisa menjadi salah satu cara untuk mengatasi masalah kebutuhan daging. "Negara kita telah menÂjalin kerja sama daging merah dan ternak dengan Australia. Produk-produk itu menurut kami diminati," kata Shinta.
Menurut dia, kedua belah pihak juga membuat kelompok kerja sama bisnis untuk menÂganalisa sektor dan pihak lokal yang dianggap kompeten dalam urusan daging sapi. "Yang kami dorong tidak hanya mereka investasi ke sini tapi juga berÂmitra dengan perusahan lokal," tukasnya.
Untuk diketahui, acara
IndoÂnesia-Australia Business Week (IABW) berlangsung mulai 6-10 Maret 2017 diadakan di lima kota di Indonesia, salah satunya Jakarta. IABW 2017 ini menjadi bagian dari perjanjian
Indonesia-Australia CompreÂhensiver Economic Partnership yang telah ditandatangani kedua negara beberapa tahun lalu.
Dalam IABW 2017 hadir ratusan investor dari Australia. Adapun tujuan acara ini adalah menawarkan berbagai peluang investasi kepada pengusaha Australia baik sektor perdaganÂgan, pendidikan, pariwisata, dan lain sebagainya. Bagi Australia, acara ini menjadi satu acara yang memiliki daya tarik tersendiri mengingat posisi Indonesia di Asia Tenggara menjadi satu negara yang perkembangan ekonominya stabil. ***
BERITA TERKAIT: