BKPM Bidik Investasi Rp 40 Triliun

Gelar Forum Bisnis Indonesia-Australia

Rabu, 08 Maret 2017, 09:38 WIB
BKPM Bidik Investasi Rp 40 Triliun
Thomas Trikasih Lembong/Net
rmol news logo Badan Koordinasi Penana­man Modal (BKPM) membidik investasi Rp 40 triliun yang bersumber dari kerja sama den­gan Australia. Sebagian besar investasi akan berasal dari bisnis peternakan, pariwisata, dan per­tambangan.

Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong mengata­kan, target investasi tersebut bisa dicapai dalam kurun waktu 3-4 tahun. "Kalau saya total semua proyek-proyek yang kita sedang coba untuk garap kira-kira nilainya Rp 39 triliun-Rp 40 triliun," ujarnya di sela-sela acara Indonesia-Australia Busi­ness Week di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, sejumlah pe­rusahaan pertambangan yang terbesar di dunia berasal dari Australia. Karena itu, Lembong berharap, perusahaan asal Negeri Kanguru yang unggul di sektor pertambangan dapat menanam­kan modalnya di Indonesia.

Bekas Menteri Perdagangan ini juga optimistis kedua negara dapat menjalin kerja sama yang saling menguntungkan di sektor pariwisata. Menurut dia, Indo­nesia memiliki banyak destinasi menyelam kelas dunia, tapi yang memiliki industri wisata bahari adalah Australia.

Menurut Lembong, Australia juga memiliki manajemen pari­wisata yang baik sehingga Indo­nesia butuh belajar dari mereka untuk mengembangkan sektor pariwisata di Tanah Air. "Kapal-kapal pesiar sementara ini Aus­tralia sangat unggul, ini yang lagi dikembangkan," kata Lembong.

Selain itu, kata dia, Australia juga berminat melanjutkan kerja sama di bidang peternakan sapi. Sebab, kebutuhan daging Indo­nesia sangat besar dan potensial. Jika kerja sama ini lancar, maka bisa jadi kebutuhan daging na­sional akan tercukupi.

"Tentu ini kemitraan yang bagus, kedua negara memiliki kemampuan masing-masing un­tuk urusan ternak kita harapkan hasilnya bisa sangat baik," kata Lembong.

Lembong optimistis, kedua negara dapat menghasilkan kerja sama yang kongkret dan saling menguntungkan karena Indone­sia dan Australia memiliki per­temuan bisnis berkelanjutan tiap empat bulan sekali. Selain itu, jarak yang relatif dekat antara kedua negara juga menjadi ke­untungan tersendiri.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani melihat, kerja sama pe­ternakan dengan Australia bisa menjadi salah satu cara untuk mengatasi masalah kebutuhan daging. "Negara kita telah men­jalin kerja sama daging merah dan ternak dengan Australia. Produk-produk itu menurut kami diminati," kata Shinta.

Menurut dia, kedua belah pihak juga membuat kelompok kerja sama bisnis untuk men­ganalisa sektor dan pihak lokal yang dianggap kompeten dalam urusan daging sapi. "Yang kami dorong tidak hanya mereka investasi ke sini tapi juga ber­mitra dengan perusahan lokal," tukasnya.

Untuk diketahui, acara Indo­nesia-Australia Business Week (IABW) berlangsung mulai 6-10 Maret 2017 diadakan di lima kota di Indonesia, salah satunya Jakarta. IABW 2017 ini menjadi bagian dari perjanjian Indonesia-Australia Compre­hensiver Economic Partnership yang telah ditandatangani kedua negara beberapa tahun lalu.

Dalam IABW 2017 hadir ratusan investor dari Australia. Adapun tujuan acara ini adalah menawarkan berbagai peluang investasi kepada pengusaha Australia baik sektor perdagan­gan, pendidikan, pariwisata, dan lain sebagainya. Bagi Australia, acara ini menjadi satu acara yang memiliki daya tarik tersendiri mengingat posisi Indonesia di Asia Tenggara menjadi satu negara yang perkembangan ekonominya stabil. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA